
Bank of England menilai valuasi saham perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) kini terlalu tinggi. (The Guardian)
JawaPos.com — Bank of England (BoE) mengeluarkan peringatan keras mengenai meningkatnya risiko pecahnya gelembung kecerdasan buatan (AI), yaitu kondisi ketika nilai perusahaan AI melonjak jauh melampaui kinerja dan fundamental sebenarnya, yang berpotensi mengguncang pasar keuangan dunia.
Dalam laporan terbaru Komite Kebijakan Keuangan (Financial Policy Committee/FPC), bank sentral Inggris menilai bahwa lonjakan valuasi perusahaan-perusahaan teknologi berbasis AI telah mencapai tingkat yang tidak lagi seimbang dengan fundamental ekonominya.
Menurut FPC, ekspektasi berlebihan terhadap dampak revolusi AI dapat memicu koreksi tajam di pasar modal global.
“Risiko koreksi pasar yang signifikan telah meningkat,” tulis FPC dalam laporannya yang dikutip The Guardian, Kamis (9/10/2025).
Komite itu menegaskan bahwa pasar saham kini sangat rentan apabila optimisme terhadap potensi AI mulai memudar.
“Koreksi mendadak dapat terjadi jika risiko-risiko yang belum diperhitungkan investor benar-benar terealisasi,” lanjut laporan tersebut.
Data terbaru menunjukkan ketimpangan mencolok antara antusiasme berlebihan dan realitas. OpenAI kini bernilai sekitar 500 miliar dolar AS atau sekitar Rp8,28 kuadriliun (kurs Rp16.560 per dolar AS), naik drastis dari 157 miliar dolar pada Oktober tahun lalu.
Sementara itu, perusahaan rintisan lain seperti Anthropic melonjak hampir tiga kali lipat dari 60 miliar dolar pada Maret menjadi 170 miliar dolar bulan lalu.
BoE menilai lonjakan tersebut mencerminkan gejala spekulatif yang mengkhawatirkan. Dalam catatan resminya, FPC menyebut bahwa banyak investor belum memperhitungkan hambatan struktural yang dapat menghambat perkembangan AI.
“Kendala material terhadap kemajuan AI— mulai dari kebutuhan energi, pasokan data, hingga rantai komoditas—dapat berdampak serius pada valuasi,” tulis komite tersebut.
Selain itu, penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkap bahwa 95 persen perusahaan di berbagai sektor industri belum memperoleh keuntungan nyata dari investasi mereka dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif.
Selain risiko gelembung AI, BoE juga menyoroti potensi guncangan pasar akibat ketidakpastian politik di Amerika Serikat. Laporan itu menyebut bahwa tekanan terhadap independensi bank sentral AS, Federal Reserve, terutama dari kebijakan Presiden Donald Trump, bisa memicu ketidakstabilan global.
“Perubahan persepsi mendadak terhadap kredibilitas Federal Reserve dapat menyebabkan penyesuaian tajam terhadap aset-aset dolar AS,” ujar FPC, dikutip Reuters.
BoE menegaskan bahwa sebagai ekonomi terbuka dengan posisi strategis di pusat keuangan global, Inggris sangat rentan terhadap dampak limpahan dari gejolak pasar internasional. Karena itu, kebijakan kehati-hatian menjadi krusial untuk mengantisipasi potensi koreksi besar di sektor teknologi maupun mata uang.
Peringatan BoE muncul di tengah euforia global terhadap gelombang AI yang banyak dipelopori tokoh seperti Elon Musk, Sam Altman, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022