Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 9 Oktober 2025 | 00.49 WIB

Kisah Pelayaran Agung Zheng He: Armada Harta Karun yang Menunjukkan Kejayaan Tiongkok di Era Dinasti Ming

Ilustrasi Zheng He dan pelayaran kapal-kapal Tiongkok (The China Project)

JawaPos.com - Zheng He adalah seorang pelaut dan penjelajah legendaris asal Tiongkok yang memimpin tujuh pelayaran besar atas perintah kaisar pada masa Dinasti Ming. Ekspedisi maritim tersebut berlangsung antara tahun 1405 hingga 1433 dan menjelajahi berbagai wilayah seperti Laut Cina Selatan, Samudra Hindia, Laut Arab, Laut Merah, hingga pesisir timur Afrika. 

Dikutip dari The Mariner's Museum and Park, tujuh pelayaran ini bukan sekadar ekspedisi penjelajahan, melainkan misi diplomatik, militer, sekaligus perdagangan yang bertujuan memperkuat pengaruh serta menunjukkan kejayaan Tiongkok kepada dunia.

Unjuk Kekuatan Maritim Tiongkok

Menurut National Geographic, meskipun sering disebut sebagai penjelajah besar, Zheng He sejatinya tidak melakukan pelayaran untuk menemukan dunia baru. Pada masa Dinasti Song, Tiongkok bahkan telah lebih dulu menjalin kontak dagang hingga ke India, Teluk Persia, dan Afrika Timur. 

Maka dari itu, pelayaran Zheng He berfungsi lebih sebagai ajang unjuk kekuatan kekaisaran dan sarana mempererat hubungan dengan negara-negara vasal, sekaligus memastikan pasokan komoditas penting seperti lada, obat-obatan, belerang, timah, dan kuda tetap lancar.

Armada yang dipimpin Zheng He sangat menakjubkan, baik dari segi ukuran maupun jumlah. Pada pelayaran pertamanya, tercatat ada 255 kapal yang berlayar, di mana 62 di antaranya merupakan kapal harta karun raksasa yang disebut baochuan

Kapal-kapal ini disertai armada pendukung seperti macuan untuk mengangkut kuda serta kapal pengangkut tentara, pelaut, dan perlengkapan. Sekitar 600 pejabat ikut serta dalam ekspedisi tersebut, termasuk dokter, ahli astrologi, dan kartografer.

Rute Ekspedisi dan Jejak Diplomasi

Kapal-kapal Zheng He memulai perjalanan dari pelabuhan utama seperti Nanjing, Hangzhou, dan Fujian. Dari sana, mereka berlayar menuju selatan dan berlabuh di Quy Nhon, Vietnam, wilayah yang saat itu baru saja ditaklukkan oleh Tiongkok. Setelahnya, armada besar itu melanjutkan perjalanan ke arah selatan, mengunjungi Jawa, Sumatra, dan singgah di pelabuhan Malaka untuk menunggu hembusan angin muson musim dingin sebelum melanjutkan pelayaran ke barat.

Tiga ekspedisi pertama berakhir di Ceylon (kini Sri Lanka) dan Kalikut di India Selatan. Pelayaran keempat mencapai Hormuz di Teluk Persia, sementara ekspedisi terakhir bahkan menjelajahi Laut Merah dan terus menuju pesisir Afrika Timur hingga Kenya, dan mungkin lebih jauh lagi.

Menariknya, berdasarkan catatan pada salinan peta Fra Mauro dari tahun 1459, disebutkan bahwa kapal-kapal Tiongkok kemungkinan telah mencapai Tanjung Harapan pada tahun 1420, sebelum terpaksa berbalik akibat kekurangan angin.

Akhir dari Pelayaran Agung

Pelayaran besar Zheng He berakhir tiba-tiba pada tahun 1433 atas perintah Kaisar Xuande. Dilansir dari ThoughtCo, terdapat tiga alasan utama di balik penghentian ekspedisi megah tersebut.

Pertama, wafatnya Kaisar Yongle, sang sponsor utama enam pelayaran pertama pada tahun 1424. Penerusnya, Kaisar Hongxi memerintahkan penghentian seluruh pelayaran. Meski demikian, cucunya, Kaisar Xuande, masih sempat melanjutkan satu ekspedisi terakhir antara tahun 1430 hingga 1433.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore