Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Mei 2026 | 03.40 WIB

Tiongkok Bangun Jaringan Listrik Nasional Saat Ledakan Token Picu Perebutan Kekuatan Komputasi

Dua peneliti bekerja di laboratorium AI Tiongkok di tengah percepatan pembangunan jaringan komputasi nasional berbasis kecerdasan buatan / Foto: (SCMP) - Image

Dua peneliti bekerja di laboratorium AI Tiongkok di tengah percepatan pembangunan jaringan komputasi nasional berbasis kecerdasan buatan / Foto: (SCMP)

JawaPos.com — Pemerintah Tiongkok mempercepat pembangunan jaringan komputasi nasional berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah lonjakan permintaan token AI yang kini diposisikan sebagai komoditas strategis baru era digital. 

Perkembangan ini mencerminkan perubahan besar dalam cara Beijing memandang infrastruktur AI: bukan lagi sekadar layanan komersial milik perusahaan cloud, melainkan utilitas publik setara jaringan listrik dan telekomunikasi nasional.

Dorongan itu muncul ketika operator telekomunikasi besar Tiongkok mulai mencari sumber pertumbuhan baru di luar layanan data seluler dan tagihan telepon konvensional. Kini, token AI—unit dasar teks, kode, dan informasi yang diproses model AI—diperlakukan layaknya kuota internet massal yang dapat dijual langsung kepada publik.

Dilansir dari South China Morning Post, Senin (18/5/2026), media pemerintah Tiongkok seperti CCTV dan Xinhua menggambarkan proyek tersebut sebagai “versi komputasi dari jaringan listrik negara.” Dalam laporan itu, token AI disebut sebagai “komoditas terukur di era AI”, serupa data seluler pada era ledakan internet 4G dan 5G. 

Pemerintah Tiongkok juga menilai infrastruktur komputasi nasional harus diperlakukan sejajar dengan jaringan air, listrik, komunikasi generasi baru, logistik, dan utilitas perkotaan lain yang masuk prioritas “enam jaringan” nasional. 

Data Biro Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan panggilan token harian di negara itu telah melampaui 140 triliun pada Maret 2026, melonjak lebih dari 1.000 kali dibanding awal 2024. Lonjakan tersebut memperlihatkan bagaimana penggunaan AI generatif berkembang dari sekadar chatbot menjadi agen AI yang bekerja otomatis menjalankan tugas kompleks dan membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar. 

Direktur National Data Administration Tiongkok, Liu Liehong, mengatakan ledakan konsumsi token menandakan industri AI nasional memasuki fase pertumbuhan baru. “Perkembangan AI di Tiongkok telah memasuki fase pertumbuhan cepat ketika fokus industri bergeser menuju agen AI yang mampu menjalankan tugas untuk pengguna, bukan hanya sekadar percakapan,” ujarnya dalam forum teknologi Zhongguancun di Beijing. 

Pemerintah pusat pun mulai menyiapkan investasi besar-besaran. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok memperkirakan investasi pada proyek “enam jaringan” dan sektor terkait akan melampaui 7 triliun yuan atau sekitar Rp 18.088 triliun tahun ini, menggunakan kurs Rp 2.584 per yuan. 

Dokumen resmi rancangan Rencana Lima Tahun ke-15 juga menyerukan pembangunan “sistem infrastruktur komputasi multilapis” dan “jaringan komputasi terintegrasi nasional” untuk menghubungkan pusat data, fasilitas superkomputer, hingga klaster AI lintas wilayah. 

Di sisi industri, operator telekomunikasi Tiongkok mulai menjual token AI sebagai layanan massal baru. Shanghai Telecom meluncurkan paket komputasi AI berbasis token dengan sistem bayar sesuai pemakaian. Dalam paket tersebut, 1 yuan atau sekitar Rp 2.584 dapat membeli 250.000 poin kuota yang setara sekitar 250.000 token input pada model Kimi-K2.5. Pengguna juga bisa mengakses lebih dari 30 model AI dan membayarnya langsung melalui tagihan telepon.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore