
Logo baru Nokia di ajang Mobile World Congress (MWC) 2023 saat Tiongkok membatasi peran vendor asing di jaringan telekomunikasi. (Reuters)
JawaPos.com — Tiongkok mengambil langkah tegas dengan membatasi penggunaan peralatan telekomunikasi dari perusahaan Eropa, terutama Nokia dan Ericsson. Menurut Financial Times (FT), kebijakan ini melibatkan mekanisme pengawas ketat yang disebut “black box” serta persyaratan dokumentasi rinci yang menjadi beban tambahan bagi vendor asing.
Dilansir Reuters, Kamis (2/9), semua kontrak dari kedua perusahaan itu harus diajukan ke Cyberspace Administration of China (CAC) untuk penilaian keamanan nasional, tanpa pemberitahuan kepada vendor mengenai metode evaluasinya. Pemerintah juga mewajibkan calon pemasok menyertakan dokumentasi lengkap dari setiap komponen sistem serta porsi konten lokal dalam proposal mereka.
Langkah ini mencerminkan strategi Presiden Xi Jinping untuk memperkuat kontrol atas sistem teknologi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada Barat. Audit panjang dan persyaratan teknis yang ketat menempatkan vendor asing pada posisi kurang menguntungkan dibanding pesaing lokal.
Dampaknya terlihat nyata, yakni pangsa pasar gabungan Nokia dan Ericsson di jaringan seluler Tiongkok anjlok dari sekitar 12 persen pada 2020 menjadi hanya 4 persen pada 2024. Tren ini sekaligus menunjukkan pergeseran dominasi ke vendor lokal seperti Huawei dan ZTE yang diuntungkan oleh dukungan kebijakan pemerintah.
Dalam kerangka lebih luas, langkah Tiongkok tersebut juga dapat dipandang sebagai respons timbal balik terhadap pembatasan yang diberlakukan negara-negara Barat terhadap Huawei dan ZTE dengan alasan keamanan nasional.
Sejalan dengan itu, FT melaporkan, “pembeli peralatan telekomunikasi dari instansi negara kini mewajibkan penawar untuk menyertakan dokumentasi rinci mengenai setiap komponen serta besaran kandungan lokal. Kebijakan ini berpotensi menimbulkan hambatan besar bagi perusahaan asing.”
Sejumlah analis memperingatkan bahwa langkah ini bisa memicu fragmentasi standar teknologi global.
John Strand, presiden Strand Consult, menilai kebijakan tersebut merupakan upaya untuk menandai vendor asing tertentu sebagai pihak yang tidak layak dipercaya.
“Apa yang Tiongkok lakukan … mereka ingin memberi stempel bahwa Ericsson dan Nokia sebagai vendor yang ‘tidak dipercaya’,” ujarnya kepada Fierce Network.
Bagi Nokia dan Ericsson, kondisi ini menjadi ujian berat. Dengan pangsa pasar yang menyusut dan akses kian terbatas di pasar Tiongkok, keduanya harus mencari strategi baru agar tetap relevan di Asia maupun global. Sementara itu, insentif pemerintah kepada vendor dalam negeri semakin memperlebar ketidaksetaraan persaingan.
Dalam arena persaingan teknologi internasional, langkah Beijing ini bukan sekadar kebijakan pasar domestik, melainkan sinyal bahwa dominasi infrastruktur digital telah menjadi salah satu medan diplomasi besar abad ke-21. (*)

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
