Serangan Israel menghancurkan menara ikonik Gaza City. (New York Times)
JawaPos.com-Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) kembali gagal meloloskan resolusi gencatan senjata permanen di Gaza setelah Amerika Serikat menggunakan hak vetonya. Padahal, 14 dari 15 anggota mendukung rancangan yang menuntut penghentian serangan Israel, pembebasan sandera, serta akses penuh bantuan kemanusiaan.
Resolusi yang diajukan oleh 10 anggota tidak tetap DK PBB itu dipandang sebagai upaya paling kuat sejauh ini untuk merespons “situasi kemanusiaan yang katastropik” di Gaza.
Selama hampir dua tahun perang, setidaknya 65.141 warga Palestina tewas, termasuk puluhan ribu perempuan dan anak-anak, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina.
Namun seperti yang sudah diduga, AS berdiri di jalur berbeda. Wakil utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Morgan Ortagus, menilai rancangan tersebut “gagal mengutuk Hamas” dan “melegitimasi narasi palsu” yang merugikan Israel.
Ia bahkan meragukan laporan resmi PBB soal kelaparan di Gaza, meski fakta di lapangan menunjukkan banyak warga meninggal saat berebut bantuan makanan.
Melansir Al-Jazeera, Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengecam keras keputusan Washington. Ia menyebut veto itu sebagai penghalang peran DK PBB dalam melindungi warga sipil dari genosida yang tengah berlangsung.
“Dewan Keamanan tetap bungkam, dan ini meruntuhkan kredibilitasnya,” tegas Mansour.
Nada serupa disampaikan Duta Besar Aljazair, Amar Bendjama. Dengan nada getir, ia meminta maaf kepada rakyat Palestina: “Dunia berbicara tentang hak, tapi menolaknya untuk Palestina. Upaya kami selalu kandas di dinding penolakan ini,” kata Amar.
Statistik yang dibacakan Bendjama menggambarkan skala tragedi: lebih dari 18.000 anak dan 12.000 perempuan terbunuh, disusul lebih dari 1.400 tenaga medis dan 250 jurnalis.
“Israel kebal, bukan karena hukum internasional, tapi karena keberpihakan sistem internasional,” ujarnya.
Keputusan veto ini menambah panjang daftar intervensi AS di forum internasional untuk melindungi Israel. Sejak berdirinya PBB, Washington tercatat sebagai negara yang paling sering menggunakan hak veto, terutama saat menyangkut isu Palestina.
Al-Jazeera menyebut momen ini ironis, mengingat PBB sedang memperingati usia ke-80 tahun. Alih-alih memperkuat multilateralisme, AS justru semakin menegaskan sikap “America First” yang melemahkan legitimasi lembaga global itu.
Sementara itu, ofensif darat Israel di Gaza City terus berlanjut tanpa kepastian kapan akan berakhir. Israel bersikeras perang akan berlanjut sampai Hamas “hancur total”.
Padahal, tim ahli independen bentukan Dewan HAM PBB baru-baru ini menyimpulkan bahwa Israel tengah melakukan genosida dengan niat menghancurkan rakyat Palestina.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
