
Asap mengepul di Doha, Qatar, karena serangan Israel. (Al-Jazeera)
JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Iran dan Mesir kini memimpin seruan untuk membentuk aliansi pertahanan bersama ala NATO, namun versi negara Islam.
Saran tersebut muncul menyusul serangan Israel terhadap kompleks perumahan di Doha yang digunakan delegasi Hamas sebagai tempat tinggal.
Sidang darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) yang digelar di Qatar, Senin (15/9) kemarin menjadi panggung bagi wacana paling serius dalam beberapa dekade terakhir tentang pembentukan blok militer Muslim.
Diketahui, gelombang serangan Israel dalam setahun terakhir, mulai dari gempuran ke sasaran Iran, serangan berkelanjutan di Gaza, hingga eskalasi terbaru di Qatar, menjadikan Israel digambarkan sebagai ancaman utama stabilitas kawasan.
Sejumlah pejabat Arab dan Iran memperingatkan, tanpa langkah nyata, negara-negara Timur Tengah akan semakin rentan terhadap operasi militer Israel di masa depan. Demikian mengutip Newsweek.
Mesir, dengan kekuatan militer terbesar di jazirah Arab, mendorong pembentukan komando militer bersama yang berbasis di Kairo. Iran, lewat pejabat seniornya, bahkan menyerukan koalisi yang lebih luas dan terintegrasi.
Mantan komandan Garda Revolusi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa Arab Saudi, Turki, hingga Irak bisa menjadi target berikutnya. “Satu-satunya solusi adalah membentuk koalisi militer,” tegasnya.
Seruan itu diperkuat ulama senior Jalal Razavi-Mehr yang mengusulkan terbentuknya tentara Islam tunggal dengan doktrin pertahanan dan serangan bersama.
Meski demikian, suara kehati-hatian juga muncul. Diplomat senior Iran, Mehdi Shoushtari, menyebut bahwa pembentukan pakta militer masih terlalu dini, meski momentum saat ini dianggap lebih kondusif dibanding masa lalu.
Pakistan, satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir, juga mendorong pembentukan satgas gabungan untuk memantau aksi Israel dan merumuskan strategi pencegahan maupun serangan terkoordinasi.
Dari Doha, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengecam keras serangan Israel yang disebutnya sebagai “serangan terhadap prinsip mediasi.”
Ia menilai kegagalan komunitas internasional mengekang Israel hanya akan melanggengkan siklus kekerasan.
Untuk diketahui juga, selama ini, OIC yang menaungi 57 negara anggota lebih banyak menghasilkan pernyataan politik ketimbang langkah nyata.
Namun, sidang darurat kali ini dianggap sebagai ujian apakah retorika dapat berubah menjadi mekanisme pertahanan bersama.
Kehadiran Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandai tekad Teheran untuk memperkuat pengaruhnya di forum yang kerap dipandang lebih condong ke kepemimpinan Arab.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
