Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 21.01 WIB

Perubahan Iklim yang Ekstrem Perburuk Kebakaran Hutan di Turki, Yunani, dan Siprus

Kebakaran hutan yang tampak dari satelit (Dok. Sky News)

JawaPos.com - Perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan suhu ekstrem dan curah hujan yang menipis telah membuat kebakaran hutan besar-besaran yang terjadi di Turki, Yunani, dan Siprus pada musim panas ini berkobar dengan lebih ganas.

Sebuah studi dari World Weather Attribution (WWA) menyebutkan bahwa kebakaran hutan telah menewaskan 20 orang, membuat 80.000 orang mengungsi, dan menghanguskan lebih dari 1 juta hektar (2,47 juta acre). Kebakaran ini juga disebut sebagai kebakaran terburuk pada tahun 2025 dalam catatan Eropa mengenai kebakaran hutan.

Melansir dari Victoria Times Colonist, ratusan kebakaran hutan yang terjadi di Mediterania Timur pada bulan Juni dan Juli didorong oleh suhu di atas 40 derajat Celsius (sekitar 104 derajat Fahrenheit), kondisi kering ekstrem, dan angin kencang.

WWA, kelompok peneliti yang menganalisis sejauh mana peristiwa cuaca ekstrem terkait dengan perubahan iklim, menyebut temuan dari penelitian mereka "mengkhawatirkan."

"Studi kami menemukan sinyal perubahan iklim yang sangat kuat menuju kondisi yang lebih panas dan kering," ujar Theodore Keeping, seorang peneliti di Pusat Kebijakan Lingkungan di Imperial College London.

"Saat ini, dengan peningkatan suhu sebesar 1,3 derajat C, kita menyaksikan ekstrem baru dalam hal kebakaran hutan, yang akhirnya membuat petugas pemadam kebakaran sulit memadamkan api yang berkobar. Saat ini, kita sedang menuju peningkatan suhu hingga 3 derajat C, kecuali negara-negara mampu beralih dengan cepat dari bahan bakar fosil," lanjut Keeping.

Studi menemukan bahwa curah hujan musim dingin sebelum kebakaran hutan terjadi telah menurun sekitar 14% sejak era pra-industri, yang mana juga sejalan dengan ketergantungan yang besar pada bahan bakar fosil. Analisis ini juga menemukan peningkatan intensitas sistem tekanan tinggi yang memperkuat angin utara ekstrem, yang dikenal sebagai angin Etesian, yang memperburuk kebakaran hutan.

Gavriil Xanthopoulos, direktur penelitian di Institut Ekosistem Hutan Mediterania Organisasi Pertanian Yunani, mengatakan bahwa petugas pemadam kebakaran perlu menunggu angin tersebut mereda untuk bisa mengendalikan kebakaran.

Sementara itu, Flavio Lehner, asisten profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Atmosfer Universitas Cornell, mengatakan penelitian tersebut konsisten dengan literatur yang ada dan sejalan dengan pemahamannya tentang bagaimana perubahan iklim dapat membuat suhu cuaca lebih meningkat sehingga mendukung terjadinya kebakaran hutan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore