Kebakaran hutan yang tampak dari satelit (Dok. Sky News)
JawaPos.com - Perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan suhu ekstrem dan curah hujan yang menipis telah membuat kebakaran hutan besar-besaran yang terjadi di Turki, Yunani, dan Siprus pada musim panas ini berkobar dengan lebih ganas.
Sebuah studi dari World Weather Attribution (WWA) menyebutkan bahwa kebakaran hutan telah menewaskan 20 orang, membuat 80.000 orang mengungsi, dan menghanguskan lebih dari 1 juta hektar (2,47 juta acre). Kebakaran ini juga disebut sebagai kebakaran terburuk pada tahun 2025 dalam catatan Eropa mengenai kebakaran hutan.
Melansir dari Victoria Times Colonist, ratusan kebakaran hutan yang terjadi di Mediterania Timur pada bulan Juni dan Juli didorong oleh suhu di atas 40 derajat Celsius (sekitar 104 derajat Fahrenheit), kondisi kering ekstrem, dan angin kencang.
WWA, kelompok peneliti yang menganalisis sejauh mana peristiwa cuaca ekstrem terkait dengan perubahan iklim, menyebut temuan dari penelitian mereka "mengkhawatirkan."
"Studi kami menemukan sinyal perubahan iklim yang sangat kuat menuju kondisi yang lebih panas dan kering," ujar Theodore Keeping, seorang peneliti di Pusat Kebijakan Lingkungan di Imperial College London.
"Saat ini, dengan peningkatan suhu sebesar 1,3 derajat C, kita menyaksikan ekstrem baru dalam hal kebakaran hutan, yang akhirnya membuat petugas pemadam kebakaran sulit memadamkan api yang berkobar. Saat ini, kita sedang menuju peningkatan suhu hingga 3 derajat C, kecuali negara-negara mampu beralih dengan cepat dari bahan bakar fosil," lanjut Keeping.
Studi menemukan bahwa curah hujan musim dingin sebelum kebakaran hutan terjadi telah menurun sekitar 14% sejak era pra-industri, yang mana juga sejalan dengan ketergantungan yang besar pada bahan bakar fosil. Analisis ini juga menemukan peningkatan intensitas sistem tekanan tinggi yang memperkuat angin utara ekstrem, yang dikenal sebagai angin Etesian, yang memperburuk kebakaran hutan.
Gavriil Xanthopoulos, direktur penelitian di Institut Ekosistem Hutan Mediterania Organisasi Pertanian Yunani, mengatakan bahwa petugas pemadam kebakaran perlu menunggu angin tersebut mereda untuk bisa mengendalikan kebakaran.
Sementara itu, Flavio Lehner, asisten profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Atmosfer Universitas Cornell, mengatakan penelitian tersebut konsisten dengan literatur yang ada dan sejalan dengan pemahamannya tentang bagaimana perubahan iklim dapat membuat suhu cuaca lebih meningkat sehingga mendukung terjadinya kebakaran hutan.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
