Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Juli 2025 | 03.45 WIB

Damai Dini di Sweida: Pasukan Suriah Mundur Setelah Bentrokan Berdarah, Israel dan AS Ikut Campur

Foto: Serangan Israel ke Suriah. (Al-Jazeera). - Image

Foto: Serangan Israel ke Suriah. (Al-Jazeera).

JawaPos.com - Setelah empat hari bentrokan sengit antara militer Suriah dan kelompok bersenjata Druze di provinsi Sweida, Suriah, pasukan pemerintah akhirnya mundur dari wilayah mayoritas Druze tersebut. 

Presiden Suriah mengumumkan keputusan ini sebagai langkah untuk menghindari perang yang lebih luas dan memberi ruang bagi kelompok Druze untuk mengatur urusan keamanannya sendiri.

Dalam pidato yang disiarkan pada Kamis (17/7), Presiden Ahmed al-Sharaa mengatakan, pihaknya memilih kepentingan rakyat Suriah daripada kekacauan dan kehancuran.

Dia juga menegaskan bahwa pemerintah berusaha menghindari konflik baru yang dapat menghambat proses pemulihan negara dari perang panjang sebelumnya.

Ketegangan bermula dari konflik lokal antara suku Arab Badui dan milisi Druze yang kemudian meluas hingga menarik intervensi tentara Suriah. 

Ketika pasukan pemerintah mencoba masuk ke Sweida, mereka disambut serangan balik dari kelompok Druze, memicu pertempuran yang menewaskan lebih dari 350 orang, menurut laporan Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris.

Situasi ini memicu perhatian internasional. Militer Israel turut melancarkan serangan ke markas Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus serta sejumlah target militer di selatan negara itu.

Dilansir via Guardian, seorang juru bicara militer Israel menyebut serangan ini sebagai 'pesan' langsung kepada Presiden Suriah terkait konflik di Sweida.

Dalam pidatonya, Sharaa mengecam keras serangan Israel yang menurutnya menargetkan fasilitas sipil dan pemerintah secara luas.

Ia menyebut bahwa eskalasi ini bisa berubah menjadi perang besar jika tidak dihentikan oleh upaya mediasi dari Amerika Serikat, negara-negara Arab, dan Turki.

Bentrokan ini menjadi tantangan paling serius terhadap otoritas Damaskus sejak serangkaian kekerasan di barat laut Suriah pada Maret lalu, yang menewaskan 1.500 warga sipil, mayoritas dari komunitas Alawite.

Kelompok Druze sendiri merupakan minoritas agama di Suriah dan kawasan Timur Tengah. Mereka telah lama bernegosiasi dengan pemerintah baru yang dikuasai kelompok Islamis sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad, untuk memperoleh otonomi. 

Namun, hingga kini belum ada kesepakatan final mengenai hubungan mereka dengan negara.

Seorang insinyur sipil muda di Sweida menyatakan kekecewaannya, "Saya lebih baik mati daripada diperintah oleh mereka. Setidaknya saya mati dengan harga diri," katanya, setelah dua sepupunya tewas dalam konflik baru-baru ini.

Namun sebagian tokoh Druze, termasuk pemimpin spiritual Youssef Jarboua, mendorong pendekatan damai dengan Damaskus. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore