Peluncur sistem pertahanan udara Patriot milik Angkatan Udara Ukraina terlihat di darat, 4 Agustus 2024. (Reuters)
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akhirnya menemukan cara untuk mempersenjatai Ukraina, yaitu dengan meminta sekutu Eropa untuk menyumbangkan senjata mereka, dan menjual penggantinya dari AS.
Namun ini bagian tersulitnya, dengan menyepakati siapa yang akan benar-benar menyerahkan sistem berharga mereka, termasuk baterai rudal Patriot yang sudah lama dicari Kyiv.
"Beberapa sistem pertahanan rudal Patriot akan tiba di Ukraina dalam beberapa hari," kata Trump di Oval Office pada hari Senin (14/7), dilansir dari Reuters.
"Kami akan membuat senjata-senjata terbaik, dan senjata-senjata itu akan dikirim ke NATO," katanya.
Menurut 10 pejabat di AS dan Eropa, seberapa besar dukungan yang diberikan untuk Ukraina, akan bergantung pada negosiasi mendatang tentang siapa yang menyediakan peralatan.
Pertanyaan utama saat ini adalah siapa yang akan menyumbangkan baterai Patriot, dan kapan akan mengirimkannya.
"Seperti biasa dalam hal-hal seperti ini, masalahnya ada pada hal-hal yang detail," ujar salah satu duta besar Eropa Utara di Washington.
Baca Juga: Trump Frustrasi dengan Putin, Amerika Berikan Rudal Patriot ke UkrainaRencana yang dicetuskan Trump dan sekretaris jenderal NATO Mark Rutte dalam beberapa hari terakhir, menurut dua sumber yang mengetahui diskusi tersebut, telah diterima secara positif oleh Ukraina dan sekutunya.
Para pemimpin di Kyiv dan di tempat lain telah merayakan pergeseran sikap yang besar dari Trump, yang hingga beberapa minggu terakhir berbicara dengan penuh pujian terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.
Beberapa orang di Eropa telah menyuarakan rasa frustasi, karena merekalah yang sebenarnya menanggung beban atas pengumuman Trump.
Selama pertemuannya di Oval Office dengan Trump pada hari Senin, Rutte menyebutkan enam negara NATO yaitu Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, Belanda, dan Kanada, yang bersedia berpartisipasi dalam skema pembelian senjata.
Bahkan sekutu dekat AS, tampaknya mengetahui proposal tersebut secara langsung.
“Saya merasa jelas, bahwa tidak ada yang diberitahu tentang rincian yang tepat sebelumnya,” kata seorang duta besar Eropa lainnya.
“Saya juga menduga bahwa secara internal dalam pemerintahan, mereka baru mulai memilah-milah apa maknanya dalam praktik," lanjutnya.