Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Mei 2025 | 03.21 WIB

Trump Kritik Rusia saat Luncurkan Serangan Terbesar ke Ukraina: Putin Bermain Api!

kolase foto donald trump dan vladimir putin (dok gettyimage) - Image

kolase foto donald trump dan vladimir putin (dok gettyimage)


JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyebut bahwa Putin sedang "bermain api" karena meluncurkan serangan besar-besaran ke Ukraina.

Melansir dari Reuters, Trump juga mengkritik Putin karena menolak pembicaraan gencatan senjata dengan Kyiv, meskipun pasukan Rusia berhasil merebut empat desa di wilayah Sumy, Ukraina timur laut.

"Apa yang tidak disadari Vladimir Putin adalah, jika bukan karena saya, banyak hal buruk sudah terjadi di Rusia, dan saya maksudkan SANGAT BURUK. Dia sedang main api." Dalam unggahan di media sosial Truth Social pada Selasa (27/5) dikutip dari Reuters.

Pernyataan ini menunjukkan kekecewaan Trump atas tidak adanya kemajuan pembicaraan perdamaian di tengah serangan drone dan misil mematikan yang terus dilancarkan Rusia ke Ukraina dalam perang yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun.

Kritik Trump ini langsung ditanggapi oleh pejabat keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, yang memperingatkan risiko Perang Dunia III jika ketegangan terus meningkat.

"Mengenai kata-kata Trump tentang Putin yang ‘main api’ dan ‘hal buruk’ yang terjadi di Rusia, saya hanya tahu satu hal yang SANGAT BURUK Perang Dunia III. Saya harap Trump mengerti ini!" Kata Medvedev di media sosial X dikutip dari Reuters.

Empat Desa di Sumy Dikuasai Rusia

Serangan dan komentar Trump muncul bersamaan dengan keberhasilan pasukan Rusia merebut empat desa di wilayah Sumy, yaitu Novenke, Basivka, Veselivka, dan Zhuravka. Gubernur Sumy, Oleh Hryhorov, mengonfirmasi pendudukan desa-desa tersebut meskipun warga sudah dievakuasi.

Selain itu, Rusia juga mengumumkan merebut desa Bilovody yang berdekatan, sebagai tanda perluasan wilayah kendali mereka dalam perang yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun ini.

Pasukan Ukraina melaporkan Rusia melancarkan serangan dengan kelompok kecil yang didukung oleh drone dan kendaraan motor, berusaha membentuk "zona penyangga" di sepanjang perbatasan.

Upaya Gencatan Senjata yang Terhambat

Meski Putin sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dalam penyusunan memorandum perdamaian, termasuk menentukan durasi gencatan senjata, Ukraina, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa menuntut agar gencatan senjata diberlakukan segera dan tanpa syarat selama minimal 30 hari.

Namun, pihak Rusia mengatakan mereka belum dapat memperkirakan berapa lama penyusunan memorandum tersebut akan memakan Waktu.

Serangan udara Rusia masih berlangsung dengan intensitas tinggi, meskipun mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Ukraina juga membalas dengan meluncurkan puluhan drone jarak jauh ke wilayah Rusia, sehingga beberapa bandara di Moskow harus ditutup sementara.

Tekanan dan Potensi Sanksi Baru dari Trump

Melansir dari Channel News Asia, Hingga kini Trump belum memberlakukan sanksi baru yang lebih keras terhadap Rusia, meski mendapat tekanan dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk meningkatkan bantuan militer.

Namun sejumlah media besar seperti Wall Street Journal melaporkan Trump sedang mempertimbangkan pemberlakuan sanksi baru yang bisa diumumkan dalam waktu dekat.

"Saya benar-benar sedang mempertimbangkan langkah tersebut.” Kata Trump Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Minggu  (25/5) dikutip dari Channel News Asia.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir tetapi Putin telah dituduh menghambat perundingan perdamaian.

Sementara itu, Gedung Putih mengatakan Trump membiarkan semua opsi tetap terbuka. Mereka pun menyalahkan pemerintahan Joe Biden terkait situasi saat ini.

"Perang ini adalah kesalahan Joe Biden, dan Presiden Trump jelas ingin melihat tercapainya kesepakatan damai. Presiden Trump juga dengan cerdas menjaga semua opsi tetap terbuka." Kata Sekertaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dikutip dari Channel News Asia.

Diketahui, Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun kini memasuki fase kritis. Sementara tekanan diplomatik untuk mengakhiri perang semakin besar, pertempuran di wilayah Sumy menunjukkan eskalasi yang memperlebar medan konflik.

Komentar tajam Trump yang menyebut Putin “main api” menandai perubahan sikap yang signifikan dari sebelumnya yang cenderung memuji Putin. Frustrasi Trump juga terlihat jelas karena upaya mengakhiri konflik yang dulu ia klaim dapat diselesaikan dalam 24 jam kini masih mandek.

Di sisi lain, pejabat Rusia memperingatkan bahwa eskalasi dapat berujung pada konsekuensi global yang lebih besar, termasuk potensi Perang Dunia III, menambah ketidakpastian prospek perdamaian di kawasan ini.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore