Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Mei 2025 | 13.52 WIB

Kontroversi Unggahan Pixel Helper Tentang Ka'bah Dikelilingi Simbol LGBT: Penistaan Agama atau Ekspresi Identitas?

Akun instagram @pixelhelper (tangkapan layar @pixelhelper)

JawaPos.com - Jagat maya kembali dihebohkan dengan video yang diunggah akun Instragam @pixelhelper. Seruan memblokir akun dengan 16 ribu lebih pengikut pun memenuhi lini masa media sosial, seperti Instagram dan X.

Video berdurasi singkat itu menampilkan visualisasi Ka'bah, yang dikelilingi oleh sekelompok individu berbusana warna-warni seperti pelangi yang merupakan simbol LGBT. Video itu sontak memicu kehebohan publik.

Konten yang diduga hasil manipulasi digital atau AI itu menuai perdebatan sengit. Sebagian menganggapnya penistaan terhadap simbol suci Islam, sementara lainnya menyebutnya ekspresi identitas dan kritik sosial.

Akademisi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, M. Febriyanto Firman Wijaya, menilai video tersebut bukan sekadar konten provokatif, melainkan sebuah artefak digital yang mengandung makna kompleks.

“Ka'bah, sebagai salah satu simbol paling sakral dalam Islam, dalam visual itu dijadikan latar bagi ekspresi identitas yang secara tradisional dianggap bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan,” tuturnya, Senin (26/5).

Ia menilai bahwa visualisasi tersebut menggambarkan bagaimana simbol-simbol keagamaan bisa direkontekstualisasi dalam ruang digital, khususnya di era kecerdasan buatan yang berkembang pesat.

Oleh karena itu, konflik makna yang muncul dari sebuah gambar atau video di media maya tidak bisa dielakkan. Bagi mayoritas Muslim, unggahan tersebut bisa dipandang sebagai tindakan penistaan agama.

Namun dari perspektif berbeda, kelompok LGBT bisa menilai unggahan tersebut sebagai upaya mengekspresikan eksistensi, mengklaim ruang, atau menyuarakan protes atas diskriminasi yang mereka hadapi dalam konteks agama.

"Fenomena ini bagian dari “pop-up religion”, bentuk ekspresi keagamaan yang lahir di ruang digital dan sering menantang tatanan keagamaan tradisional," imbuh Febri.

“Kini siapa pun bisa menciptakan narasi keagamaan sendiri secara visual dan performatif. Estetika warna-warni dan gaya teatrikal menjadi cara untuk menarik perhatian dalam lautan informasi digital," tukasnya. 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore