Seorang pria menguji coba alat yang kemudian digunakannya, untuk membakar sebuah rumah di distrik Gwanak, Seoul (21/4). (Dok. X dan Yonhap)
JawaPos.com - Seorang pria berusia 60-an, yang namanya tidak disebutkan, tiba dengan sepeda motor di kawasan Seoul yang tenang, Senin (21/4).
Pria itu sambil membawa alat penyemprot pestisida, berisi pelarut yang mudah terbakar.
Beberapa saat kemudian, ia membakar sebuah bangunan tempat tinggal, yang menewaskan dirinya sendiri dan melukai 13 orang lainnya.
Polisi mengatakan, pemicunya kemungkinan adalah pertikaian kebisingan antar tetangga.
Di Korea Selatan, pertikaian semacam ini sangat umum, bahkan ada istilah 'cheung-gan so-eum,' yang merujuk pada kebisingan antar lantai di gedung-gedung hunian.
Meskipun sebagian besar pertikaian tidak berakibat fatal, masalah ini berakar dalam di negara tempat sebagian besar orang tinggal berdekatan dengan tetangga, baik diatas maupun dibawah mereka.
Menurut Sensus Penduduk dan Perumahan 2020, yang dilakukan setiap lima tahun sekali oleh pemerintah, 77,8 persen warga Korea Selatan tinggal di perumahan multi-unit, seperti apartemen, kondominium, atau rumah teras.
Tragedi hari Senin bukanlah kasus pertama, di mana penderitaan terjadi akibat kebisingan di rumah, tempat di mana seseorang seharusnya merasa paling nyaman berubah menjadi tindakan kekerasan yang mengerikan.
Dua bulan sebelumnya, seorang pria yang tinggal di lantai lima sebuah apartemen bertingkat rendah di Yangju, provinsi Gyeonggi, membunuh tetangganya.
Pria tersebut mengatakan kepada polisi bahwa ia pergi ke rumah itu untuk mengeluhkan suara yang berisik dan melakukan tindakan itu karena marah.
Para ahli mengatakan, bahwa kebisingan saja tidak cukup untuk mendorong seseorang melakukan pembunuhan.
Sebaliknya, hal itu sering kali menjadi pemicu yang paling kentara untuk ketegangan yang lebih dalam dan belum terselesaikan.
"Ini adalah kejahatan yang dipicu oleh amarah. Masalahnya, masyarakat kita tidak memiliki sistem yang membantu orang mengatasi kemarahan dan konflik semacam itu, dengan cara yang damai," kata Lee Yoon Ho, seorang profesor administrasi kepolisian di Universitas Dongguk, kepada The Korea Times.
Ia menambahkan bahwa ketika individu dibiarkan mengatasi kemarahan dalam hidup mereka sendiri, dan tidak terbiasa menyelesaikan masalah melalui komunikasi atau norma bersama.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
