
Seorang pria Palestina membawa jenazah seorang anak yang tewas akibat serangan Israel, di kamp pengungsi Jabalia.
JawaPos.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sepekan lalu menggelar resolusi yang meminta dilakukannya gencatan senjata kemanusiaan mendesak di Jalur Gaza.
Namun, resolusi tersebut harus gagal karena veto Amerika Serikat dan Inggris yang memilih untuk abstain.
Menurut informasi, alasan AS menggunakan veto adalah karena gencatan senjata hanya akan menjadi benih perang berikutnya lantaran Hamas tidak memiliki keinginan untuk berdamai yang bertahan lama.
Sementara itu, Inggris tidak mendukung resolusi PBB karena mereka menilai tidak adanya kecaman terhadap Hamas.
Hal tersebut diungkap langsung oleh salah seorang menteri Inggris, pada Selasa (12/12). Resolusi itu sendiri sebenarnya telah didukung oleh 13 anggota Dewan Keamanan lainnya.
Inggris menyebut bahwa ada banyak hal bagus dalam resolusi itu, namun tidak ada kecaman terhadap Hamas. Karena itulah, Inggris merasa tidak bisa mendukung dan memilih untuk abstain., seperti yang dilansir dari Antara, Rabu (13/12).
Sementara itu, Menteri Pembangunan Internasional dan Afrika, Andrew Mitchell mengatakan bahwa situasi di Gaza tidak bisa diteruskan. Dia mengaku skala kematian warga sipil dan pengungsian di Gaza sangat mengejutkan.
“Meski Israel mempunyai hak membela diri dari teror, memulihkan keamanan dan memulangkan para sandera, Israel harus mematuhi hukum internasional dan mengambil semua tindakan yang mungkin guna melindungi warga sipil,” jelasnya.
Andrew menegaskan kembali pendirian Inggris dalam mencapai kemajuan menuju solusi dua negara, yakni menyelesaikan negosiasi yang mengarah pada kehidupan Israel yang aman dan tentram berdampingan serta negara Palestina yang layak dan berdaulat.
Saat ditanya kapan Inggris akan bergabung dengan negara-negara lain yang mendukung jeda permanen di daerah Gaza tersebut, Andrew mengungkap bahwa mereka akan mendukung jeda tapi tidak gencatan senjata, karena dianggap tidak masuk akal.
"Kami terus mencari dan mengidentifikasi mekanisme untuk memastikan tidak ada impunitas dalam hal ini. Pihak berwenang akan mengambil tindakan yang transparan," tambahnya.
Andrew Mitchell menambahkan bahwa Gaza harus berada di bawah kendali Palestina dan Hamas tidak akan memiliki tempat di masa depan Gaza.
Israel telah membombardir Jalur Gaza dari udara dan darat, melakukan pengepungan dan melancarkan serangan darat sebagai pembalasan terhadap serangan lintas batas Hamas pada 7 Oktober.
Dalam data terbaru, tercatat ada 18.205 warga Palestina yang terbunuh dan 49.645 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak saat itu, sedangkan Israel kehilangan 1.200 nyawa.
Di sisi lain, Ketegangan juga meningkat di wilayah Tepi Barat Palestina yang diduduki. Diketahui, Israel juga melakukan penyerangan di daerah tersebut yang menyebabkan 275 warga Palestina tewas dan 3.730 lainnya ditahan.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
