
Pemimpin PLO Yasser Arafat (kanan) bersalaman dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin disaksikan oleh Presiden AS Bill Clinton pada 13 September 1993 di White House, Amerika Serikat.
JawaPos.com - Konflik antara Israel dan Palestina memang sudah bukan hal yang mengejutkan lagi, dimana setelah bertahun-tahun perang itu tak kunjung padam.
Peristiwa baru-baru ini merupakan puncak dari bentrokan selama puluhan tahun di wilayah Timur Tengah yang disengketakan.
Tentu ini tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan dan tidak bisa dibiarkan akibat konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan sejak didirikannya negara Israel pada 1948.
Konflik Israel-Palestina adalah salah satu konflik paling berkepanjangan dan paling kompleks, hal tersebut memiliki akar sejarah yang mendalam lebih dari abad dan terus mempengaruhi kehidupan jutaan orang di Timur Tengah.
Sejarah
Dilansir dari The Guardian, awal mula zaman Romawi yang dimana dimulai dengan migrasi orang-orang Yahudi pada akhir abad ke-19 ke wilayah yang dulunya merupakan Kesultanan Ottoman, untuk menghindari pogrom dan penganiayaan lainnya di Eropa Timur dan kebangkitan Zionisme
Lalu adanya ketidakpuasan deklarasi Balfour yang dilakukan pemerintah Inggris pada tahun 1917 untuk mendukung “rumah nasional bagi orang-orang Yahudi” di Palestina dan konflik yang terjadi kemudian dengan komunitas Arab di sana.
Namun, titik awal bagi banyak orang adalah keputusan PBB pada tahun 1947 yang membagi wilayah Palestina dalam mandat Inggris menjadi dua negara, yaitu satu negara Yahudi dan satu negara Arab, lalu menyusul kehancuran sebagian besar warga Yahudi Eropa dalam Holocaust.
Baik Palestina maupun negara-negara Arab tetangganya tidak menerima pendirian Israel modern.
Pertempuran antara kelompok bersenjata Yahudi, yang beberapa di antaranya dianggap oleh Inggris sebagai organisasi teroris, dan Palestina meningkat hingga tentara Mesir, Irak, Transyordania, dan Suriah menyerbu setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaan pada Mei 1948.
Dengan semakin kuatnya pasukan Israel, perjanjian gencatan senjata pada tahun 1949 menghasilkan perbatasan de facto baru yang memberi negara Yahudi tersebut lebih banyak wilayah dibandingkan yang diberikan berdasarkan rencana pembagian PBB.
Lalu apa yang terjadi dengan warga Palestina yang tinggal di sana?
Sekitar 700 ribu warga Palestina diusir atau melarikan diri dan sekitar 85% populasi Arab di wilayah yang direbut Israel, serta tidak pernah diizinkan untuk kembali.
Warga Palestina menyebut eksodus dan pemberantasan sebagian besar masyarakat mereka di Israel sebagai Nakba, atau “bencana” dan hal ini masih menjadi peristiwa traumatis dalam sejarah modern mereka.
Orang-orang Arab yang tetap tinggal di Israel sebagai warga negara menjadi sasaran diskriminasi resmi.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
