Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Februari 2020 | 04.35 WIB

Menyukai Model Gimbal, Penata Rambut Mozambik Langgar Tabu

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Seorang penata rambut asal Mozambik, Cadino Chipanga, memilih melanggar tabu pada 20 tahun lalu karena menyukai rambut model gimbal. Karena kecintaannya, dia menerima pelanggan yang menginginkan model rambut gimbal. Padahal, gaya rambut gimbal pada masa itu tidak diterima di beberapa masyarakat Afrika.

Selain itu, Chipanga juga melakukan hal yang dianggap tabu di Mozambik kala itu. Yakni sebagai pria penata rambut yang juga melayani pelanggan perempuan. Kala itu, pria penata rambut diharuskan hanya menerima pelanggan pria saja. Demkian pula sebaliknya.

Namun, Chipanga tidak menyesal telah melanggar tabu di negaranya. Kini, dalam usia 38 tahun, dia telah memiliki Carapinha yakni bisnis kecil yang mengelola tiga salon di Maputo dan berbagai produk perawatan rambut.

"Idenya adalah menciptakan salon yang fokusnya untuk merawat rambut alami pada saat tiada lagi orang yang peduli. Orang-orang menggunakan lebih banyak bahan kimia dan rambut palsu," sebut Chipanga di tempatnya membuat produk perawatan rambut, yang terletak di pinggiran kota, seperti dilansir Reuters.

"Misi kami adalah mengembalikan kecintaan pada rambut Afro yakni gimbal. Karena itu saya memulai usaha ini," imbuh Chipanga.

Chipanga dalam usahanya membuat produk perawatan rambut, termasuk sampo, dari tumbuhan yang disebut Nlhelho atau duri iblis. Sampo itu juga digunakan oleh ibu dan neneknya. Artinya, ramuan sampo itu merupakan turun termuran dari keluarganya.

Chipanga yang dikenal sebagai master rambut, juga menggunakan bunga matahari dan kelapa sebagai bahan produk yang dibuatnya.

Chipanga sendiri bukan anggota Rastafarian. Seperti diketahui, rambut gimbal di Afrika sering dikaitkan dengan Rastafarianisme dan sebagian besar masyarakat lambat dalam mengikuti budaya tersebut. Di beberapa negara, anak-anak Rastafarian diminta pulang dari sekolah karena rambut gimbalnya.

"Pada masa lalu ketika kita melihat seseorang dengan rambut gimbal kami pikir itu aneh dan menyimpang. Pola pikir kami telah berubah, karena itu kami bisa menerima rambut gimbal sekarang," ujar Felicidade Langa, seorang pelanggan salon milik Chipanga.

"Saya memulai gaya rambut ini karena salah satu salon Carapinha ada di lingkungan tempat tinggal saya. Saya pikir lingkungan lain di sekitar juga ingin memiliki salon Rastafarian yang khas. Jadi jika dia terus membuka salon di tempat lain itu akan baik," imbuh Langa.

Chipanga sendiri yakin bisa terus meluaskan usahanya. Hal itu karena saat ini warga Mozambik khususnya sudah menyukai gaya rambut gimbal. "Butuh beberapa waktu, tetapi saat ini ada lebih banyak orang yang mencintai rambut alami mereka dan semuanya berjalan lancar," pungkas Chipanga.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore