
TAK CUMA DI IRAN: Sejumlah warga Iraq menangis saat upacara pemakaman Abu Mahdi Al Muhandis, tokoh paramiliter Iraq, yang tewas bersama Qasem Soleimani kemarin (4/1). (SABAH ARAR / AFP)
Amerika Serikat (AS) mau menggelontorkan artileri darat? Eits, tak seperti Iraq, wilayah Iran bergunung-gunung. AS mau mengandalkan drone? Iran malah lebih dulu memanfaatkan pesawat nirawak itu. Bagaimana kalau menyerang lewat laut? Jangan lupa, yang mau diserang punya kapal-kapal selam ampuh.
Mochamad Salsabyl Adn, Jawa Pos
Sekilas, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprovokasi Iran dengan membunuh Mayor Jenderal Qasem Soleimani seperti mengulang skenario yang dilakukan Negeri Paman Sam itu terhadap Presiden Iraq Saddam Hussein dulu. Macam-macam, tinggal bom, lalu invasi saja.
”Perang pasti terjadi. Pertanyaannya, di mana, kapan, dan bagaimana,” ujar Charles Lister, direktur program kontra terorisme dan ekstremisme di Middle East Ins titute, seperti dilansir National Post.
Katakanlah ”Perang Dunia III” –seperti tagar yang ramai jadi perbincangan di media sosial setelah Soleimani tewas akibat serangan drone AS Jumat lalu itu (3/1)– benar terjadi, benarkah AS bakal segampang itu menggulung Iran seperti yang mereka lakukan di Iraq?
Nanti dulu. Iran bukan Iraq. Ada banyak sekali faktor pembeda. Iran merupakan negara dengan sistem pertahanan yang kuat. Negara itu juga solid dibawah Pemimpin Tertinggi Ayatul lah Ali Khamenei.
Di sisi lain, pasca-Perang Dunia II, AS sudah terlibat perang dengan empat negara: Korea Utara, Vietnam, Afghanistan, dan Iraq. Satu-satunya yang dimenangi adalah perang melawan Iraq. Perang dengan Afghanistan belum berakhir sampai kini. Perang melawan Korea Utara bisa dibilang berakhir seri. Dan, AS kalah di Vietnam.
Pertanyaannya, bagaimana AS berencana menaklukkan Iran yang wilayahnya lebih luas dari pada empat negara tersebut jika di gabung. Mengutip utas yang dipaparkan penulis, konsultan, dan pemerhati teknologi Tomi T. Ahonen di Twitter, saat menginvasi Iraq, AS dengan mudah mengerahkan artileri darat seperti tank dan roket. Mudah saja bermanuver di negara yang di penuhi padang pasir.
Masalahnya, Iran dipenuhi pegunungan. Sama dengan Afghanistan yang sampai saat ini belum bisa 100 persen ditaklukkan AS. ”Sangat mungkin AS bakal memilih serangan udara,” imbuh Bud Wichers, pakar militer Timur Tengah, kepada Jawa Pos.
Dengan drone alias pesawat nirawak supercanggih seperti Predator atau MQ-9 Reaper (yang melepaskan misil sehingga menewaskan Soleimani), AS memang bisa menyerang tanpa khawatir ada personel militer yang tewas. Namun, solusi dari udara itu tidak lantas berarti AS bisa mengakhiri perang tanpa kehilangan apa pun.
Ahonen mengingatkan, Iran adalah negara kedua setelah Israel yang menggunakan teknologi drone. Jauh sebelum AS. Bahkan, Iran adalah negara pertama yang menyematkan senjata di pesawat tanpa awak. Artinya, Iran juga bisa menyerang aset-aset AS dan sekutunya di Timur Te ngah.
”AS belum pernah berperang dengan negara yang punya teknologi drone militer. Mereka juga belum pernah berperang dengan negara pemilik kapal selam yang bisa melumpuhkan kapal induk sekalipun,” paparnya.
Memang benar, kekuatan militer Iran tak sampai setengah dari AS. Namun, AS juga tak mungkin mengerahkan semua kekuatannya untuk memerangi Iran. Teheran juga punya banyak sekutu di tingkat regional. Kebanyakan merupakan kelompok militan yang sudah lama menyu lit kan AS seperti Hiz bullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.
Itu berarti, AS harus siap berperang di mana pun dalam wilayah Timur Tengah. Meskipun, beberapa pakar sudah menetapkan bahwa Iraq, lokasi tewasnya Soleimani, sebagai panggung perang utama. ”Saat ini tekanan bakal dirasakan militer AS yang berada di Iraq,” ujar Ales Vatanka, peneliti Middle East Institute, kepada Agence France-Presse.
Iran juga punya beberapa rencana cadangan untuk membuat AS frustrasi. Mereka bisa melakukan serangan siber ke beberapa aset AS. Termasuk, infrastruktur di dalam Negeri Paman Sam. Iran sudah membuktikan tak sungkan menyerang target rawan seperti warga sipil atau fasilitas umum.
”Yang ditakuti adalah mereka melumpuhkan jaringan listrik atau membuat kebocoran zat kimia,” ungkap Loic Guezo, kepala konsultan Clusif.
Namun, Wichers mengatakan bahwa AS pun punya solusi alternatif. Yakni, menciptakan proksi untuk memulai perang sipil. Saat ini ada kelompok pemberontak yang tidak aktif bernama Arab Struggle Movement for the Liberation of Ahvaz (ASMLA).
AS bisa saja membesarkan kelompok tersebut untuk melemahkan Iran dari dalam.
”Saat ini kekuatan mereka jelas lemah. Tapi, bisa saja mereka membesar setelah didukung AS,” jelasnya.
Photo
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022