
Donald Trump mengatakan bahwa dia tidak akan menjadi diktator jika dia kembali menjadi presiden AS.
JawaPos.com - Presiden Donald Trump mengancam akan membawa hasil Pemilu Amerika Serikat ke Mahkamah Agung. Sebab dia merasa dicurangi. Trump tak terima sejumlah suaranya merosot di beberapa negara bagian. Dan Trump ingin semua pemungutan suara dihentikan.
"Seperti di negara bagian seperti Georgia menyusut, sebagai hal yang memalukan bagi negara kita," kata dia dalam pidatonya seperti dilansir dari CNBC, Rabu (4/11).
Klaim kemenangan oleh Trump dilontarkan padahal jutaan suara yang sah belum dihitung dan setengah lusin negara medan pertempuran masih belum dipanggil. “Sekelompok orang sedang mencoba untuk mencabut hak pilih saya dan kami tidak akan mendukung ini,” kata Trump dari Ruang Timur Gedung Putih.
"Kami bersiap-siap untuk perayaan besar. Kami memenangkan segalanya, dan tiba-tiba saja batal," kata Trump.
"Kami akan pergi ke Mahkamah Agung AS, kami ingin semua penghitungan suara dihentikan," tukas Trump.
Entah mengapa Trump menyebut akan mengancam akan ke MA. Sebab secara hukum, Trump tak bisa langsung ke MA. Kasus biasanya sampai ke pengadilan tertinggi negara setelah sudah ada putusan kasus sebelumnya oleh hakim lokal dan kemudian pengadilan banding lainnya.
Namun mungkin Trump berkaca pada tahun 2000, di mana George Bush memenangkan Pemilu karena menggugat hasil Pemilu ke Mahkamah Agung. Dan saat itu Mahkamah Agung mengeluarkan keputusan penting untuk mengentikan penghitungan suara dan akhirnya Bush menang saat itu.
Menanggapi Trump, tim kampanye Biden mengatakan pihaknya memiliki tim hukum yang siap untuk melawan setiap tuntutan hukum yang diajukan oleh Partai Republik.
"Jika presiden menepati ancamannya untuk pergi ke pengadilan untuk mencoba mencegah tabulasi suara, kami memiliki tim hukum yang siap untuk dikerahkan untuk menolak upaya itu, dan mereka akan menang,” kata manajer kampanye Biden, Jen O'Malley Dillon dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Fortune, Rabu (4/11).
Pernyataan Dillon menyiratkan Pemilu AS akan rawan sengketa hukum. Pengamat Politik Nicholas Whyte, dari APCO Worldwide, sebuah perusahaan konsultan di Brussels menjelaskan langkah Trump berlebihan.
“Tentu saja sebelum dibawa ke Mahkamah Agung, bagaimanapun juga itu harus pergi ke pengadilan lokal dulu. Jadi pernyataannya untuk membawanya langsung ke Mahkamah Agung adalah suatu hal yang berlebihan yang tidak dapat dilakukan,” kata Whyte.
Partai Republik di Pennsylvania pada Selasa (3/11) juga mengajukan gugatan di satu daerah di pinggiran Philadelphia. Republik menuduh bahwa para pejabat secara ilegal mengizinkan penghitungan surat suara yang masuk sebelum Hari Pemilihan.
“Pennsylvania adalah negara bagian kunci. Saya membayangkan tindakan hukum apa pun akan dilacak dengan cepat, tetapi kami belum melihat dasar dari tindakan hukum apa pun," tutup Whyte.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022