
Sekolah Dasar Hwayang di Seoul ditutup pada tahun 2023 karena kekurangan siswa baru. (Newsis)
JawaPos.com - Lebih dari 4.000 SD, SMP, dan SMA di seluruh Korea Selatan telah ditutup seiring dengan menyusutnya jumlah siswa di negara tersebut.
Mengutip laporan Korea Times, data terbaru dari Kementerian Pendidikan Korea Selatan menunjukkan bahwa penurunan jumlah siswa telah berdampak pada penutupan ribuan sekolah di seluruh negeri. Informasi tersebut disampaikan pada Minggu (28/12) oleh anggota parlemen Jin Sun Mee dari Partai Demokrat Korea.
Tercatat sebanyak 4.008 sekolah yang berada di bawah naungan 17 kantor pendidikan regional telah ditutup hingga saat ini. Penutupan tersebut didominasi oleh sekolah dasar, dengan total 3.674 SD ditutup secara permanen. Sementara itu, jumlah sekolah menengah pertama yang ditutup mencapai 264 unit, dan sekolah menengah atas sebanyak 70 unit.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sebanyak 158 sekolah telah berhenti beroperasi. Tren penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut, dengan proyeksi penutupan tambahan sebanyak 107 sekolah dalam lima tahun mendatang.
Tingkat kelahiran di Korea Selatan sendiri merupakan yang terendah di dunia, dengan angka kesuburan total di bawah 0,8 dan jadi alasan utama di balik penutupan ini.
Laju penutupan juga menunjukkan bahwa penurunan pendaftaran diperkirakan akan semakin cepat di daerah provinsi daripada di wilayah ibu kota.
Jumlah penutupan terbanyak terjadi di provinsi Jeolla Utara dengan 16 sekolah, diikuti oleh provinsi Jeolla Selatan (15), provinsi Gyeonggi (12), dan provinsi Chungcheong Selatan (11).
Gambaran demografis negara secara lebih luas menunjukkan, bahwa penyusutan ini hanya akan semakin intensif dalam beberapa tahun mendatang, bahkan mungkin beberapa dekade.
Lembaga Pengembangan Pendidikan Korea yang dikelola negara memperkirakan, bahwa jumlah siswa SD, SMP, dan SMA mencapai sekitar 5,07 juta tahun ini dan diproyeksikan akan menurun menjadi sekitar 4,25 juta pada tahun 2029, dengan penurunan lebih dari 800.000 siswa hanya dalam enam tahun.
Angka tersebut kurang dari setengah angka pendaftaran lebih dari 10 juta yang tercatat pada tahun 1980-an.
Data kementerian juga mengungkapkan, kesenjangan serius dalam pengelolaan lokasi sekolah yang telah ditutup. Dari 4.008 sekolah yang telah ditutup, 376 masih belum digunakan.
Di antara sekolah-sekolah tersebut, 266 telah terbengkalai selama lebih dari satu dekade, dan 82 telah ditinggalkan selama lebih dari 30 tahun.
Menurut kantor anggota parlemen, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lanjutan dan pemanfaatan kembali fasilitas sekolah lama tertinggal dari kecepatan penutupan, yang menimbulkan kekhawatiran tentang pemborosan aset publik.
“Sejumlah besar sekolah telah ditutup, dan ini akan terus berlanjut seiring dengan penurunan jumlah siswa,” kata Jin Sun Mee.
“Kita tidak boleh hanya berhenti pada penutupan sekolah, tetapi harus mengembangkan peta jalan jangka panjang untuk mengubah fungsi sekolah-sekolah tersebut, menjadi aset bagi masyarakat setempat," lanjutnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
