Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Desember 2025 | 03.48 WIB

Startup Jepang Klaim Ciptakan AGI Pertama di Dunia dengan Kemampuan Penalaran Setara Manusia

Ilustrasi robot cerdas yang merepresentasikan terobosan sistem AGI baru buatan Integral AI yang diklaim memiliki kemampuan penalaran setara manusia. (Interesting Engineering) - Image

Ilustrasi robot cerdas yang merepresentasikan terobosan sistem AGI baru buatan Integral AI yang diklaim memiliki kemampuan penalaran setara manusia. (Interesting Engineering)

JawaPos.com — Integral AI, perusahaan rintisan yang berbasis di Tokyo dan didirikan mantan insinyur senior Google, Jad Tarifi, kembali mengguncang lanskap kecerdasan buatan global lewat klaim pembangunan sistem Artificial General Intelligence (AGI) pertama di dunia.

Klaim tersebut segera memicu perhatian para pemimpin teknologi global karena AGI—kecerdasan buatan yang mampu menalar dan belajar layaknya manusia—merupakan tujuan puncak dalam perlombaan AI internasional.

Untuk memperkuat posisinya, Integral AI menegaskan bahwa sistem barunya mampu mempelajari berbagai tugas baru secara mandiri tanpa dataset awal ataupun intervensi manusia. Definisi ini menandai upaya perusahaan membangun tolok ukur AGI yang lebih terstruktur dibanding pendekatan perusahaan raksasa di Silicon Valley.

Dilansir dari Interesting Engineering, Kamis (11/12/2025), Integral AI menyatakan bahwa kemampuan sistemnya memenuhi tiga kriteria mendasar, yakni pembelajaran keterampilan secara otonom, penguasaan yang aman dan andal, serta efisiensi energi pada tingkat yang sebanding dengan proses manusia mempelajari keterampilan yang sama. Perusahaan menyebut bahwa ketiga pilar tersebut menjadi “tonggak dasar dan tolok ukur pengujian” dalam pengembangan model tersebut.

Selanjutnya, arsitektur model ini diklaim meniru neokorteks manusia—bagian otak yang mengatur persepsi, bahasa, dan pemikiran sadar. Pendekatan tersebut, menurut Integral AI, memungkinkan sistem mengembangkan abstraksi, merencanakan, dan bertindak secara terpadu dalam dunia nyata.

Uji robotik internal menunjukkan robot mampu mempelajari keterampilan baru tanpa supervisi manusia, sebuah langkah yang mereka anggap sebagai pembeda utama dari AI generasi sebelumnya.

Dalam pernyataan resminya, Tarifi menegaskan skala historis dari terobosan ini. Dia mengatakan, “Pengumuman hari ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi membuka babak baru dalam perjalanan peradaban manusia.”

Dia menambahkan bahwa visi berikutnya adalah “mengembangkan lebih lanjut model yang masih berada pada tahap awal ini ke arah kecerdasan super berwujud yang dapat memperluas kebebasan serta kapasitas kolektif manusia.”

Meski demikian, klaim “AGI pertama di dunia” ini tetap menuai skeptisisme dari komunitas riset AI global. Para analis menilai bahwa definisi AGI yang belum universal membuat validasi atas klaim seperti ini memerlukan pengujian independen, dokumentasi terbuka, serta verifikasi akademik.

Pengalaman sebelumnya—misalnya sengketa klaim “keunggulan kuantum”—menunjukkan bahwa industri teknologi kerap berbeda pendapat mengenai batasan teknis sebuah terobosan.

Selain itu, sejumlah tinjauan akademik menilai bahwa bahkan model AI tercanggih saat ini masih belum mampu memenuhi kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk mencapai AGI, seperti fleksibilitas dalam berbagai tugas, ketahanan kinerja, dan kapasitas mengingat informasi dalam jangka panjang. Karena itu, pakar AI memandang bahwa klaim Integral AI baru dapat dipastikan setelah diuji secara publik dan melewati tinjauan ilmiah yang ketat.

Namun demikian, secara strategis, langkah Integral AI menegaskan bahwa perlombaan AGI tidak lagi hanya dipimpin oleh perusahaan raksasa Amerika seperti Tesla-xAI, Meta, atau Google DeepMind. Jepang—dengan ekosistem robotik dan rekayasa yang matang—tengah menunjukkan peran yang semakin penting dalam kompetisi menciptakan kecerdasan buatan generasi berikutnya.

Pada akhirnya, apakah model Integral AI benar-benar menjadi AGI pertama di dunia masih harus dibuktikan melalui verifikasi independen. Namun langkah ini jelas mengguncang dinamika global, memaksa para pemain utama seperti Sam Altman, Demis Hassabis, dan Jensen Huang untuk meninjau kembali posisi serta strategi mereka dalam perlombaan membangun kecerdasan buatan yang mampu menalar layaknya manusia. ***

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore