
Mark Zuckerberg, CEO Meta, di tengah sorotan atas kebijakan pelacakan aktivitas karyawan untuk melatih kecerdasan buatan. (Business Insider)
JawaPos.com — Meta mempercepat strategi kecerdasan buatan (AI) dengan pendekatan yang semakin agresif di tingkat internal. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu meluncurkan perangkat lunak yang merekam aktivitas kerja karyawan di komputer, termasuk ketikan dan pergerakan mouse, sebagai bahan pelatihan model AI.
Langkah tersebut langsung memicu resistensi di kalangan karyawan Amerika Serikat (AS). Di tengah percepatan pengembangan kecerdasan buatan di internal perusahaan, kebijakan ini menyoroti sisi lain dari akselerasi AI, yakni ketegangan antara dorongan inovasi dan batas privasi tenaga kerja.
Dilansir dari Business Insider, Rabu (22/4/2026), program ini diumumkan secara internal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan AI memahami perilaku pengguna komputer. Dalam pengumuman tersebut ditegaskan, “Agar agen AI dapat memahami bagaimana manusia benar-benar menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, kami perlu melatih model kami dengan contoh nyata.”
Penjelasan internal Meta juga menekankan bahwa data yang dikumpulkan mencakup interaksi dasar, seperti penggunaan pintasan papan ketik dan pemilihan menu. Perusahaan menyatakan, “Ini memungkinkan semua karyawan Meta membantu model kami menjadi lebih baik hanya dengan menjalankan pekerjaan harian mereka.”
Namun, respons internal karyawan Meta menunjukkan penolakan yang tidak kecil. Salah satu komentar yang paling banyak mendapat dukungan berbunyi, “Ini membuat saya sangat tidak nyaman. Apakah ada opsi untuk tidak ikut?” Reaksi ini diperkuat oleh dominasi simbol ekspresi marah dalam forum komunikasi internal perusahaan.
Menanggapi hal tersebut, Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat wajib. Dia menyatakan, “Tidak ada opsi untuk menolak penggunaan program ini di laptop kerja yang disediakan perusahaan.” Pernyataan ini justru memperbesar gelombang reaksi negatif di internal.
Di sisi lain, Meta mencoba meredam kekhawatiran dengan menegaskan adanya pengamanan data. Juru bicara perusahaan menyampaikan, “Ada perlindungan yang diterapkan untuk melindungi konten sensitif, dan data tersebut tidak digunakan untuk tujuan lain.” Selain itu, ruang lingkup pelacakan disebut terbatas pada aplikasi kerja seperti Gmail, GChat, Metamate, dan VSCode, serta tidak mencakup perangkat ponsel.
Menurut laporan Reuters, kebijakan ini pada dasarnya merupakan perluasan dari praktik pemantauan yang telah lama diterapkan pada perangkat kerja karyawan. Sebelumnya, karyawan telah diinformasikan bahwa aktivitas di perangkat kantor dapat dipantau, meskipun kini digunakan secara lebih intensif untuk kepentingan pengembangan AI.
Secara strategis, kebijakan ini menjadi bagian dari dorongan Meta untuk mempercepat pengembangan AI berbasis perilaku nyata pengguna. Perusahaan sebelumnya telah membentuk unit Meta Superintelligence Labs, menggelar program internal ‘AI Weeks’, serta merestrukturisasi tim ke dalam kelompok berbasis AI. Dalam kerangka itu, program pelacakan ini diposisikan sebagai bagian dari inisiatif Model Capability Initiative yang bertujuan memperkaya data pelatihan model.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
