
Salah satu wanita leher panjang dari Suku Karen, yang sedang menjual hasil karyanya. (Tripadvisor)
JawaPos.com - Chiang Mai, kota budaya di utara Thailand, menyimpan pesona yang tak biasa, yakni desa-desa Suku Karen, khususnya sub-etnis Padaung, yang dikenal dengan tradisi leher panjang. Perempuan dari Suku Karen mengenakan cincin kuningan di leher sejak usia dini, menciptakan tampilan yang ikonik dan memicu rasa ingin tahu wisatawan dari seluruh dunia.
Tradisi ini bukan sekadar estetika. Menurut Thailand Hill Tribe Holidays, cincin tersebut dulunya berfungsi sebagai pelindung dari serangan binatang buas dan simbol kecantikan serta status sosial.
“Leher panjang dianggap sebagai lambang keanggunan dan kekuatan perempuan,” tulis situs tersebut.
Kini, desa wisata seperti Baan Tong Luang dan Huay Pu Keng menjadi destinasi utama turis. Di tempat ini, pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pemasangan cincin, belajar teknik menenun, hingga membeli kerajinan tangan khas Karen.
Namun, daya tarik ini juga menimbulkan perdebatan etis tentang eksploitasi budaya dan bagaimana tradisi dijadikan komoditas wisata.
Di balik sorotan publik, banyak perempuan Karen tetap memilih mempertahankan tradisi leher panjang ini sebagai bagian penting dari identitas mereka. Tak sedikit yang merasa bangga karena cincin kuningan tersebut bukan hanya simbol warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber daya tarik ekonomi.
Melalui wisata budaya, mereka memperoleh kesempatan untuk lebih mandiri secara finansial sekaligus mengenalkan tradisi leluhur kepada masyarakat dunia.
Sejalan dengan itu, pemerintah Thailand bersama organisasi lokal kini berupaya mengelola desa wisata dengan pendekatan yang lebih etis. Program edukasi serta pelatihan diberikan kepada warga, agar mereka berperan sebagai pemandu budaya yang aktif, bukan sekadar menjadi objek tontonan wisatawan.
“Kami ingin wisatawan memahami makna di balik tradisi, bukan hanya memotret,” ujar Paiboon, pemandu lokal di Chiang Mai.
Selain tradisi leher panjang, suku Karen juga memiliki kekayaan budaya lain seperti musik bambu, tarian adat, dan sistem kepercayaan animisme yang berpadu dengan pengaruh Kristen. Desa mereka menjadi ruang hidup yang dinamis, bukan museum budaya yang beku.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, penting untuk memilih operator tur yang mendukung pariwisata berkelanjutan. Situs Chiang Mai Travel Hub menyarankan untuk berinteraksi langsung, membeli produk lokal, dan menghormati batasan adat. Ini bukan sekadar perjalanan, tapi juga bentuk penghargaan terhadap warisan manusia.
Tradisi leher panjang Suku Karen adalah cerminan kompleksitas antara identitas, ekonomi, dan etika global. Chiang Mai bukan hanya destinasi wisata, tapi juga ruang refleksi tentang bagaimana budaya lokal bisa bertahan di tengah arus modernisasi dan pariwisata massal. (*)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
