
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. (Al-Jazeera)
JawaPos.com-Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung akan menjalani momen diplomasi paling krusial sejak menjabat, dengan menggelar pertemuan pertamanya bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, Senin (25/8) mendatang.
Pertemuan ini menjadi puncak dari negosiasi panjang tarif perdagangan sekaligus penentu arah aliansi strategis kedua negara di tengah ketegangan geopolitik global.
Lawatan enam hari Lee dimulai Sabtu (23/8) dengan kunjungan ke Tokyo untuk bertemu Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, sebelum bertolak ke AS. Selain isu perdagangan dan pertahanan, Lee juga membawa agenda besar peta jalan tiga tahap denuklirisasi Korea Utara yang untuk pertama kali dia buka kepada publik.
Washington mendorong modernisasi aliansi pertahanan. Termasuk soal penempatan pasukan AS di Semenanjung Korea, kontribusi belanja militer Seoul, hingga pengendalian operasional perang (Opcon).
Di sisi lain, Lee berupaya mencari dukungan Jepang dan AS untuk meredakan ketegangan di perbatasan Korea dengan mengusulkan penghentian siaran propaganda. Tak hanya keamanan, sektor energi nuklir ikut jadi sorotan.
Dikutip via Korea JoongAng Daily, diplomat Seoul menyebut ada peluang pembahasan revisi perjanjian energi sipil Korea-AS agar Korea bisa lebih leluasa memproduksi dan mengolah bahan bakar nuklir. Kerja sama ini muncul setelah kontroversi soal kesepakatan Korea Hydro & Nuclear Power (KHNP) dengan Westinghouse yang menimbulkan perdebatan soal royalti tinggi dan hak paten.
Dalam kunjungannya ke AS, Lee tak datang sendiri. Dia akan didampingi para bos konglomerat terbesar Korea, dari Samsung, Hyundai, LG, hingga SK Group, yang akan memamerkan paket investasi jumbo.
Korea sebelumnya sudah menyepakati investasi senilai USD 350 miliar di AS, imbalannya tarif ekspor produk Korea ditekan hanya 15 persen, lebih rendah dari prediksi 25 persen sebelumnya.
Selain itu, Lee juga membawa proposal proyek ambisius senilai US$150 miliar di sektor galangan kapal, bertajuk Make American Shipbuilding Great Again (MASGA), sebagai upaya merebut simpati Trump yang dikenal mengedepankan politik dagang transaksional.
Menjelang keberangkatan, Lee menegaskan bahwa strategi diplomasi yang dia jalankan bukan demi citra politik, melainkan kepentingan jangka panjang negaranya.
“Dalam diplomasi, prioritas kita adalah kepentingan rakyat dan keberlanjutan bangsa, bukan posisi saya pribadi atau kepentingan jangka pendek pemerintahan,” ujar Lee.
Dengan lanskap politik dan perdagangan global yang sedang direstrukturisasi, pertemuan Lee-Trump akan menjadi panggung uji kepiawaian diplomasi Seoul dalam menjaga keseimbangan antara keamanan, perdagangan, dan perdamaian Semenanjung Korea.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
