
Kematian Zara Qairina Mahathir karena perundungan jadi sorotan nasional di Malaysia. (Istimewa).
JawaPos.com - Malaysia tengah diguncang tragedi kematian Zara Qairina Mahathir, siswi berusia 13 tahun yang diduga menjadi korban perundungan di sekolah asramanya, SMKA Tun Datu Mustapha Limauan, Sabah.
Kasus ini tak hanya memicu duka mendalam, tetapi juga kemarahan publik dengan tagar #JusticeForZara menggema di media sosial.
Kronologi kematian Zara dimulai pada 16 Juli 2024, sekitar pukul 3 dini hari, Zara ditemukan tak sadarkan diri di saluran pembuangan dekat asrama sekolahnya. Ia dilaporkan jatuh dari lantai tiga gedung asrama.
Meski segera dilarikan ke Rumah Sakit Queen Elizabeth I di Kota Kinabalu, nyawanya tak tertolong.
Sehari kemudian, 17 Juli, Zara dinyatakan meninggal dunia dan dimakamkan di kampung halamannya, Kampung Kalamauh Mesapol, Sipitang.
Mengutip Strait Times, tragedi ini dengan cepat memicu sorotan nasional. Menteri Pendidikan Fadhlina Sidek pada 18 Juli menegaskan bahwa kementeriannya bekerja sama penuh dengan kepolisian dalam proses penyelidikan.
Namun, keluarga korban mendesak transparansi. Pada 21 Juli, ibu Zara, Noraidah Lamat, meminta penyelidikan dilakukan secara adil dan jujur. Ia mengenang, terakhir kali bertemu putri tunggalnya adalah saat gotong royong sekolah empat hari sebelum kejadian.
Komisaris Polisi Sabah, Jauteh Dikun, menyatakan pada 28 Juli bahwa penyelidikan menyeluruh tengah berlangsung. Namun, isu semakin melebar setelah tuduhan yang menyeret nama pejabat publik muncul di Parlemen.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Mustapha Sakmud bahkan harus turun tangan dan angkat suara pada 30 Juli untuk membantah keterlibatan dirinya maupun istrinya, Rosnih Nasir, mantan kepala sekolah. Ia menyebut tuduhan itu merusak reputasi tanpa dasar.
Polisi pada 31 Juli mengonfirmasi penyidikan sudah memasuki tahap akhir, dengan lebih dari 60 saksi dimintai keterangan. Berkas kasus kemudian diserahkan ke Kejaksaan Agung (AGC) untuk ditinjau.
Belum puas dengan penyelidikan, ibu Zara pada 1 Agustus meminta makam putrinya dibongkar untuk keperluan otopsi. Ia juga menunjuk pengacara untuk menempuh jalur hukum.
Namun, pengacara keluarga pada 6 Agustus mengimbau publik menahan diri dari spekulasi yang bisa mempersulit penyelidikan. Kejaksaan Agung saat itu juga mengembalikan laporan awal ke polisi dengan instruksi agar investigasi diperdalam.
Pada 7 Agustus, Noraidah dijadwalkan menyerahkan ponsel berisi rekaman audio percakapan terakhir dengan putrinya kepada polisi sebagai bukti tambahan.
Kasus ini juga menyeret isu penyebaran hoaks. Kementerian Pendidikan melaporkan lebih dari 10 unggahan dan video menyesatkan terkait kasus ini karena dikhawatirkan memicu perundungan terhadap guru maupun siswa.
Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil mendesak aparat menindak tegas penyebar informasi palsu, sementara Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (KPK) memperingatkan publik agar tidak menyebarkan gambar anak-anak yang diduga terlibat.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
