Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 April 2025 | 22.38 WIB

Pertikaian Kebisingan Antar Tetangga Berujung Maut di Korea Selatan, Pria Bakar Apartemen dan Tewas

Seorang pria menguji coba alat yang kemudian digunakannya, untuk membakar sebuah rumah di distrik Gwanak, Seoul (21/4). (Dok. X dan Yonhap)

JawaPos.com - Seorang pria berusia 60-an, yang namanya tidak disebutkan, tiba dengan sepeda motor di kawasan Seoul yang tenang, Senin (21/4).

Pria itu sambil membawa alat penyemprot pestisida, berisi pelarut yang mudah terbakar. 

Beberapa saat kemudian, ia membakar sebuah bangunan tempat tinggal, yang menewaskan dirinya sendiri dan melukai 13 orang lainnya.

Polisi mengatakan, pemicunya kemungkinan adalah pertikaian kebisingan antar tetangga.

Di Korea Selatan, pertikaian semacam ini sangat umum, bahkan ada istilah 'cheung-gan so-eum,' yang merujuk pada kebisingan antar lantai di gedung-gedung hunian. 

Meskipun sebagian besar pertikaian tidak berakibat fatal, masalah ini berakar dalam di negara tempat sebagian besar orang tinggal berdekatan dengan tetangga, baik diatas maupun dibawah mereka.

Menurut Sensus Penduduk dan Perumahan 2020, yang dilakukan setiap lima tahun sekali oleh pemerintah, 77,8 persen warga Korea Selatan tinggal di perumahan multi-unit, seperti apartemen, kondominium, atau rumah teras.

Tragedi hari Senin bukanlah kasus pertama, di mana penderitaan terjadi akibat kebisingan di rumah, tempat di mana seseorang seharusnya merasa paling nyaman berubah menjadi tindakan kekerasan yang mengerikan.

Dua bulan sebelumnya, seorang pria yang tinggal di lantai lima sebuah apartemen bertingkat rendah di Yangju, provinsi Gyeonggi, membunuh tetangganya. 

Pria tersebut mengatakan kepada polisi bahwa ia pergi ke rumah itu untuk mengeluhkan suara yang berisik dan melakukan tindakan itu karena marah.

Para ahli mengatakan, bahwa kebisingan saja tidak cukup untuk mendorong seseorang melakukan pembunuhan. 

Sebaliknya, hal itu sering kali menjadi pemicu yang paling kentara untuk ketegangan yang lebih dalam dan belum terselesaikan.

"Ini adalah kejahatan yang dipicu oleh amarah. Masalahnya, masyarakat kita tidak memiliki sistem yang membantu orang mengatasi kemarahan dan konflik semacam itu, dengan cara yang damai," kata Lee Yoon Ho, seorang profesor administrasi kepolisian di Universitas Dongguk, kepada The Korea Times.

Ia menambahkan bahwa ketika individu dibiarkan mengatasi kemarahan dalam hidup mereka sendiri, dan tidak terbiasa menyelesaikan masalah melalui komunikasi atau norma bersama.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore