Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Desember 2023 | 15.39 WIB

Terpaksa Diberi Obat Penenang, Kisah Pilu Anak-anak di Gaza Imbas Serangan Israel

Penderitaan anak-anak di Gaza akibat serangan israel._X Sean Casey - Image

Penderitaan anak-anak di Gaza akibat serangan israel._X Sean Casey

JawaPos.com - Staff Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi sebuah rumah sakit di Gaza yang merawat korban akibat serangan mematikan di sebuah kamp pengungsian.

Disana, para staff turut mendengar cerita menyedihkan tentang seluruh keluarga yang terbunuh dan melihat anak-anak sekarat.

Dari informasi yang dihimpun, sekitar 100 orang dibawa ke rumah sakit Al Aqsa untuk mendapat perawatan seadanya, dan banyak diantaranya adalah anak-anak.

Meski demikian, semua korban membutuhkan perawatan segera karena luka serius akibat serangan Israel.

Dilansir dari media X milik Sean Casey selaku Koordinator Tim Medis Darurat dari WHO, pada Jumat (29/12), ia menggambarkan para dokter memberikan pereda nyeri kepada seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang terluka parah bernama Ahmed.

"Dia dirawat dengan obat penenang untuk meringankan penderitaannya saat dia meninggal," ujar Casey dalam videonya di X. 

Ahmed mengalami luka serius tatkala bangunan di sekitar tempat penampungannya meledak. 

Baca Juga: Prancis Merasa Prihatin Setelah Israel Merencanakan Intensifkan Serangan ke Gaza

"Dia sedang menyeberang jalan di depan tempat penampungan tempat keluarganya tinggal dan bangunan di sampingnya meledak," tambahnya

Anak yang malang tersebut terkena pecahan peluru dan puing-puing bangunan yang meledak.

Saat ini, bagian otaknya terbuka, seperti banyak kasus yang terjadi di Gaza sejak serangn Israel dilayangkan. 

Tidak ada dokter yang memiliki kapasitas untuk menangani kasus-kasus neurologis yang kompleks.

Meskipun Rumah Sakit Al Aqsa memiliki persediaan medis dan bahan bakar untuk menjalankan generator. 
 
Casey menegaskan bahwa fasilitas tersebut menerima lebih banyak pasien daripada kapasitas tempat tidur dan staff yang dapat menanganinya.

Hal tersebut membuat banyak pasien yang terluka tidak dapat bertahan menunggu perawatan.

"Kami melihat hampir hanya kasus trauma yang muncul, dan pada skala yang cukup sulit dipercaya. Ini adalah pertumpahan darah seperti yang kami katakan sebelumnya, ini adalah pembantaian yang kejam," tutupnya.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore