Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 November 2023 | 17.12 WIB

Ilmuwan India Lakukan Percobaan Penyemaian Awan untuk Atasi Polusi Parah di Ibu Kota

Kondisi pagi hari dengan polusi kabut yang menurun di New Delhi, India pada Senin (6/11). (Sumber: REUTERS/Anushree Fadnavis) - Image

Kondisi pagi hari dengan polusi kabut yang menurun di New Delhi, India pada Senin (6/11). (Sumber: REUTERS/Anushree Fadnavis)

JawaPos.com - Para ilmuwan India berencana untuk pertama kalinya menyemai awan yang dapat memicu hujan wilayah di New Delhi untuk mengatasi kabut asap yang menyelimuti ibu kota paling tercemar di dunia tersebut, kata kepala proyek tersebut pada Kamis (9/11).

Kualitas udara menurun di Delhi menjelang musim dingin tiba, ketika udara dingin memerangkap polutan dari berbagai sumber termasuk kendaraan, industri, debu konstruksi, dan pembakaran limbah pertanian.
 
Para ilmuwan memperkirakan akan ada tutupan awan di atas kota sekitar 20 November dan berharap awan tersebut akan cukup besar yang membawa kadar air yang cukup tinggi, agar dapat memicu hujan lebat, kata Manindra Agrawal, ilmuwan di Institut Teknologi India di Kanpur.
 
 
Proyek tersebut, yang diperkirakan menelan biaya 10 juta Rupee atau sekitar Rp 1,8 miliar untuk 100 kilometer persegi lingkup wilayah, akan melibatkan penyemprotan campuran garam yang mencakup yodium perak ke awan, kata Agrawal, dikutip dari Reuters.
 
"Kami tidak memperkirakan awan sebesar itu akan menutupi seluruh Delhi, tapi beberapa ratus kilometer saja sudah cukup,” katanya.
 
Pemerintah daerah di kota berpenduduk 20 juta orang, yang tersebar di wilayah seluas sekitar 1.500 kilometer persegi, telah menutup semua sekolah, menghentikan kegiatan konstruksi, dan mengatakan akan memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan untuk mengendalikan polusi.
 

Indeks kualitas udara di kota itu berada pada angka 506 pada Kamis (9/11) pagi, yang dikategorikan sebagai udara 'berbahaya' oleh kelompok Swiss IQAir.
 
Sekitar 38 persen polusi di Delhi disebabkan oleh pembakaran tunggul di Punjab dan Haryana, di mana lebih dari 22.000 peristiwa pembakaran tunggul tercatat antara 15 September dan 7 November, menurut pernyataan pemerintah.
 
Pembakaran tunggul adalah praktik yang dilakukan oleh petani dimana tunggul tanaman yang tertinggal setelah padi dipanen dibakar untuk segera membuka lahan sebelum menanam tanaman gandum.
 
 
Pemerintah federal telah mengarahkan pihak berwenang di kedua negara bagian untuk 'mengambil tindakan efektif' guna mencegah pembakaran tunggul lebih lanjut, tambah pernyataan itu.
 
Beberapa negara telah menggunakan penyemaian awan untuk menghasilkan hujan, meningkatkan kualitas udara, dan mengairi tanaman pada saat kekeringan, termasuk Meksiko , Amerika Serikat, Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia.
Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore