
Ilustrasi kemarau ekstrem.
JawaPos.com–Kekeringan ekstrem yang melanda Suriah, Irak, dan Iran, sejak 2020 tidak akan terjadi tanpa adanya pemanasan global. Sebagian besar itu disebabkan oleh aktivitas manusia.
Dikutip dari The Guardian, sebuah hasil riset menunjukkan krisis iklim yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di Suriah, Irak, dan Iran, kini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi. Kekeringan terjadi di lembah Sungai Tigris-Efrat, yang meliputi sebagian besar wilayah Suriah dan Irak terjadi setiap 250 tahun sekali sebelum terjadinya pemanasan global. Namun, kini kekeringan tersebut diperkirakan akan terjadi setiap sepuluh tahun sekali.
Di Iran, pada masa lalu, kekeringan ekstrem terjadi sekali setiap 80 tahun. Namun, sekarang kekeringan tersebut terjadi rata-rata setiap lima tahun sekali.
Pemanasan global berkelanjutan yang disebabkan pembakaran bahan bakar fosil, akan menjadikan kekeringan itu semakin sering terjadi.
Studi tersebut juga menemukan bahwa akibat perang bertahun-tahun dan ketidakstabilan politik telah mengurangi kemampuan masyarakat untuk mengatasi kekeringan dan mengubahnya menjadi bencana kemanusiaan.
Para peneliti mengatakan sangat penting untuk membuat perencanaan dalam menghadapi kekeringan yang lebih sering terjadi di masa depan.
”Penelitian kami menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia telah membuat kehidupan puluhan juta orang di Asia Barat terasa lebih sulit,” kata Prof Mohammad Rahimi dari Universitas Semnan, Iran.
”Dengan pemanasan global yang lebih lanjut, Suriah, Irak, dan Iran, akan menjadi tempat yang sulit untuk dihuni,” tambah dia.
Dr Friederike Otto, dari Imperial College London, Inggris, mengatakan kekeringan seperti itu akan terus meningkat sampai manusia berhenti menggunakan bahan bakar fosil.
Pada 2022, The Guardian mengungkapkan ratusan penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa pemanasan global mengakibatkan lebih sering terjadinya bencana yang bersifat mematikan. Para ilmuwan menemukan bahwa suhu tinggi yang tercatat sejak 2020 hampir tidak mungkin terjadi tanpa adanya perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Suhu udara yang sangat panas akan meningkatkan penguapan sehingga kekeringan ekstrem yang terjadi sudah melampaui ambang batas kekeringan yang normal. Dampak kekeringan sangat luas, menyebabkan jutaan orang mengungsi dari daerah pedesaan, melonjaknya harga pangan, kebakaran hutan, dan polusi udara serta sungai dan danau tempat penangkapan ikan mengering.
Di Suriah, 2 juta penduduk pedesaan terpaksa mengungsi dan 12 juta orang atau 60 persen dari populasi dilaporkan mengalami kekurangan pangan.
Hampir setiap provinsi di Iran juga terkena dampak kekeringan yang parah dan buruknya panen menyebabkan harga pangan melonjak semakin tinggi.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
