Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Oktober 2023 | 13.07 WIB

Kisah Sedih Lagu Atouna El Toufoule dan Anak-anak di Gaza Palestina

Ilustrasi: SItuasi kondisi Palestina pasca serangan pasukan Israel - Image

Ilustrasi: SItuasi kondisi Palestina pasca serangan pasukan Israel

JawaPos.com -  Anak-anak Palestina merakit hidup di tengah puing-puing pertempuran dan letusan bom, dalam konflik yang selalu menghantui.

Pada hari yang sulit diterjemahkan, pada Senin (17/10) di halaman RS Al Ahli Baptis mereka nampak bersemangat menjalani aktivitas untuk mengusir trauma akibat perang. 

Dengan dipandu pembimbing kegiatan, mereka membersihkan halaman, bernyanyi, dan bermain sambil belajar bersama dengan balutan keceriaan. 

Namun sayangnya, 20 jam berikutnya semua terkoyak ketika Israel melakukan pengeboman, persis di RS Baptis Gaza, tempat di mana mereka merakit hidup, menjahit apa yang disebut kebahagiaan. 

Sebuah bom dahsyat seketika merusak bangunan mimpi yang coba dibangun. 500 lebih korban jiwa terenggut dan mereka yang melanjutkan hidup dibayangi trauma mengerikan. 

Dokter Ibrahim Al-Naqa yang bertugas di rumah sakit Baptis menceritakan, "Tanpa peringatan, rumah sakit ini menjadi sasaran. Kami tidak tahu apa sebutan dari peluru tersebut, namun kami melihat akibat yang ditimbulkan ketika peluru tersebut menargetkan anak-anak dan mencabik-cabik tubuh mereka."

Data dari Save The Children menyatakan, "Lebih dari 1.000 anak dilaporkan tewas dalam 11 hari serangan udara di Gaza atau satu anak tewas setiap 15 menit. Sepertiga dari total korban jiwa di Gaza adalah anak-anak." 

Data lain menerangkan, jumlah kematian anak-anak telah mencapai 1.300 atau lebih dari 100 orang anak terenggut nyawanya setiap harinya. 

Sejak Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant mengeluarkan statement "Pengepungan total terhadap Gaza" atau dalam kata lain, tidak ada listrik, air, bahan bakar, dan makanan bagi kehidupan di Gaza. 

Sulit membayangkan kehidupan anak-anak Palestina di gaza dengan kondisi seperti itu. Jason Lee dari Save The Children mengatakan, "Persediaan air hampir habis dan waktu hampir habis untuk anak-anak di Gaza." 

Kampanye pengeboman ini  turut merenggut masa sekolah anak-anak di Gaza. Sebab sekolah berubah menjadi tempat pengungsian. 

PBB kini menampung sekitar 400.000 pengungsi Gaza di sekolah-sekolah dan fasilitas lainnya.

UNRWA, sebuah badan PBB untuk pengungsi Palestina melaporkan  dari 278 sekolah yang di bawah naungannya, 4 di antaranya mengalami kerusakan akibat pemboman dan memakan setidaknya merenggut 6 korban jiwa. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore