Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 00.46 WIB

Banyak Proposal Damai dari Berbagai Negara Demi Selesaikan Konflik di Ukraina, tapi Tak Ada Kemajuan

Ilustrasi konflik Rusia dan Ukraina. Ukraina mengundurkan diri dari Kejuaraan Judo Dunia di Qatar karena kehadiran atlet Rusia yang menurut mereka merupakan tentara aktif. - Image

Ilustrasi konflik Rusia dan Ukraina. Ukraina mengundurkan diri dari Kejuaraan Judo Dunia di Qatar karena kehadiran atlet Rusia yang menurut mereka merupakan tentara aktif.

JawaPos.com - Tepat 16 bulan invasi Rusia ke Ukraina, sejumlah rencana perdamaian dan mediasi berbagai pihak semakin meningkat. Tetapi, tampaknya sejauh ini tidak ada kemajuan yang terlihat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan pejabat senior Ukraina telah berulang kali mengatakan bahwa sementara Ukraina terbuka untuk masukan dari pihak lain, namun masih belum membutuhkan mediator untuk pembicaraan damai. Ini karena Ukraina telah mengesampingkan kompromi apapun di wilayah kedaulatannya.
Sementara, Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak menunjukkan tanda-tanda siap melepaskan ambisinya untuk mengendalikan Ukraina.

"Kelemahan dalam proposal perdamaian ini adalah bahwa Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayahnya ke Rusia, baik di Krimea atau bagian timurnya, sebagai syarat untuk memulai negosiasi perdamaian," kata Peter Bayer selaku anggota Parlemen Jerman.

Selain Jerman, banyak negara lain yang mencoba menengahi perseteruan kedua belah pihak. Di antaranya termasuk Tiongkok, Brasil, beberapa negara Afrika, dan Indonesia.

Putin mengatakan bahwa perdamaian dapat dicapai di Ukraina jika Amerika Serikat dan NATO berhenti memasok senjata ke Kiev. "Jika mereka ingin melihat solusi negosiasi untuk konflik ini, cukup bagi mereka untuk menghentikan pasokan senjata," kata Putin.

Dmitri Trenin, mantan perwira intelijen Rusia dan sekarang seorang ilmuwan politik di Moscow School of Economics, mengatakan bahwa Putin menyambut ide-ide dari Tiongkok dan negara-negara non-Barat lainnya. Namun, Kiev mungkin memiliki alasan lain untuk berhati-hati.

Profesor perdamaian David Cortright mengatakan sudah waktunya bagi Ukraina dan Rusia untuk berbicara lebih banyak tentang mengakhiri perang, bahkan jika mereka tidak saling percaya.

"Tidak ada alasan untuk takut pada diplomasi, tidak perlu menyerah pada musuh, kami tahu dari proses perdamaian lainnya bahwa meskipun diplomasi dimulai, konflik bersenjata akan terus berlanjut," ujar David.

"Ini tidak berarti bahwa Ukraina harus mengkompromikan tuntutannya yang sah agar Rusia menarik semua pasukannya dari wilayah Ukraina dan semua wilayah yang diduduki Rusia," tambahnya.

Richard Caplan, seorang profesor di Universitas Oxford, yang telah melakukan penelitian tentang akhir perang dan kondisi perdamaian, menawarkan beberapa pemikiran serius.

Dia mengatakan bahwa sekitar seperempat dari perang tahun 1946 berakhir dalam waktu kurang dari sebulan dan seperempat lainnya dalam waktu kurang dari setahun. Sisanya memakan waktu rata-rata lebih dari satu dekade.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore