
Suasana perkampungan suku Baduy yang masih mempertahankan kearifan lokal sampai saat ini. (Dokumentasi Kemenparekraf)
JawaPos.com - Masyarakat kuno di Jawa Barat sudah menerapkan teknologi untuk membangun permukiman. Mereka mempertimbangkan hukum aliran air, sehingga waktu itu permukimannya bebas dari risiko penanganan banjir.
Sejarawan dari Monash University Luthfi Adam mengatakan, masyarakat Sunda masa lampau begitu memperhatikan lingkungan dalam membangun permukiman. Kondisi memperhatikan aliran air itu dilakukan karena mayoritas kawasannya ada di lereng atau daratan yang miring.
"Masyarakat Sunda saat itu sangat perhatian ke lingkungan. Terutama pada hukum air," jelas Luthfi Adam dalam diskusi media di Jakarta (3/10). Diskusi itu membahas kearifan lokal masyarakat Jawa Barat tempo dulu.Salah satu membangun permukiman yang tidak menghambat aliran air, termasuk membangun permukiman di daerah-daerah sekitar sungai.
"Dalam konteks tata guna lahan, mereka membangun permukiman di perbukitan. Kemudian jauh dari aliran sungai," tuturnya. Sehingga mereka bisa mencegah terjadinya banjir. Selain itu, aliran air tidak terhambat. Hal itu ikut mencegah terjadinya longsor maupun banjir bandang.
Pengamatan Luthfi Adam, masyarakat Sunda pada masa itu membangun rumah cenderung menghadap ke utara. Ini berlawanan dengan aliran air. Seperti diketahui untuk kawasan Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya, aliran air menuju ke utara dan bermuara di laut sisi utara pulau Jawa.
Kemudian masyarakat adat Sunda saat itu dalam membangun rumah tidak boleh menutupi cahaya matahari. "Falsafahnya adalah sinar matahari itu adalah hak semua masyarakat," katanya. Sehingga tidak boleh ada bangunan atau yang bisa menutupi pancaran sinar matahari.
Kearifan lokal seperti itu masih tumbuh sampai sekarang. Di antaranya diterapkan di masyarakat Baduy. Mereka secara administrasi sekarang masuk Provinsi Banten. Dahulu sebelum ada pemekaran, Suku Baduy berada di Jawa Barat.
Kearifan lokal berupa cara hidup berdampingan dengan alam seperti itu, perlu terus digali. Kemudian bisa diterapkan dalam sistem tata kota saat ini. Sehingga kejadian seperti banjir, tanah longsor, maupun banjir bandang bisa ditekan. Termasuk meminimalisir korban yang terdampak. (wan)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
