Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 05.14 WIB

Suku Baduy Mempertahankan Prinsip Masyarakat Sunda Kuno dalam Membangun Permukiman Bebas Banjir

Suasana perkampungan suku Baduy yang masih mempertahankan kearifan lokal sampai saat ini. (Dokumentasi Kemenparekraf) - Image

Suasana perkampungan suku Baduy yang masih mempertahankan kearifan lokal sampai saat ini. (Dokumentasi Kemenparekraf)

JawaPos.com - Masyarakat kuno di Jawa Barat sudah menerapkan teknologi untuk membangun permukiman. Mereka mempertimbangkan hukum aliran air, sehingga waktu itu permukimannya bebas dari risiko penanganan banjir.

Sejarawan dari Monash University Luthfi Adam mengatakan, masyarakat Sunda masa lampau begitu memperhatikan lingkungan dalam membangun permukiman. Kondisi memperhatikan aliran air itu dilakukan karena mayoritas kawasannya ada di lereng atau daratan yang miring.

"Masyarakat Sunda saat itu sangat perhatian ke lingkungan. Terutama pada hukum air," jelas Luthfi Adam dalam diskusi media di Jakarta (3/10). Diskusi itu membahas kearifan lokal masyarakat Jawa Barat tempo dulu.Salah satu membangun permukiman yang tidak menghambat aliran air, termasuk membangun permukiman di daerah-daerah sekitar sungai.

"Dalam konteks tata guna lahan, mereka membangun permukiman di perbukitan. Kemudian jauh dari aliran sungai," tuturnya. Sehingga mereka bisa mencegah terjadinya banjir. Selain itu, aliran air tidak terhambat. Hal itu ikut mencegah terjadinya longsor maupun banjir bandang.

Pengamatan Luthfi Adam, masyarakat Sunda pada masa itu membangun rumah cenderung menghadap ke utara. Ini berlawanan dengan aliran air. Seperti diketahui untuk kawasan Bogor, Sukabumi, dan sekitarnya, aliran air menuju ke utara dan bermuara di laut sisi utara pulau Jawa.

Kemudian masyarakat adat Sunda saat itu dalam membangun rumah tidak boleh menutupi cahaya matahari. "Falsafahnya adalah sinar matahari itu adalah hak semua masyarakat," katanya. Sehingga tidak boleh ada bangunan atau yang bisa menutupi pancaran sinar matahari.

Kearifan lokal seperti itu masih tumbuh sampai sekarang. Di antaranya diterapkan di masyarakat Baduy. Mereka secara administrasi sekarang masuk Provinsi Banten. Dahulu sebelum ada pemekaran, Suku Baduy berada di Jawa Barat.

Kearifan lokal berupa cara hidup berdampingan dengan alam seperti itu, perlu terus digali. Kemudian bisa diterapkan dalam sistem tata kota saat ini. Sehingga kejadian seperti banjir, tanah longsor, maupun banjir bandang bisa ditekan. Termasuk meminimalisir korban yang terdampak. (wan)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore