Bandara Dhoho Kediri yang telah beroperasi diharapkan bisa lebih hidup dan ramai oleh perjalanan pesawat. (Radar Kediri / Wahyu Adji)
JawaPos.com - Bandara Dhoho Kediri resmi beroperasi pada Jumat (5/4) lalu. Setelah resmi beroperasi, bandara tersebut kedepannya diharapkan bisa ramai oleh penumpang maupun penerbangan.
Salah satu upayanya antara melibatkan pemerintah daerah. Penjabat (Pj) Gubernur Jatim Adhy Karyono melalui surat edaran (SE) yang diterbitkan Jumat (5/4) lalu mengimbau perjalanan dinas lewat udara yang dilakukan kepala daerah dan aparatur sipil negara (ASN) agar melalui Bandara Dhoho.
Setidaknya ada 14 daerah yang diminta menghidupkan Bandara Dhoho diantaranya Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Jombang.
Selain itu, daerah di eks Karesidenan Kediri dan Madiun juga turut dilibatkan, yaitu Kota dan Kabupaten Kediri, Kota dan Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Trenggalek. Kemudian, Kota dan Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Pacitan.
Selain mengimbau melakukan perjalanan dinas lewat Bandara Dhoho, dalam SE tersebut, terdapat tiga poin lain terkait upaya menghidupkan bandara tersebut, yaitu meminta Pemda membantu publikasi operasional bandara.
Poin ketiga adalah Pemda juga diminta mengoptimalkan potensi wisata dan event wisata di daerah sekitar Bandara Dhoho.
Keempat, gubernur akan menyusun nota kesepakatan bersama atau memorandum of understanding (MoU) terkait penggunaan Bandara Dhoho untuk perjalanan dinas pada poin nomor satu, demi mewujudkan efisiensi anggaran.
Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri Mohamad Solikin, SE tersebut merupakan hasil dari rapat pemda bersama dengan Pemprov Jatim.
“SE itu adalah hasil diskusi panjang yang sudah dilakukan sejak lama. Tujuannya agar bandara Dhoho terus hidup dan berdampak bagi masyarakat,” kata Solikin seperti dikutip dari Radar Kediri.
Ia mengakui bahwa menghidupkan Bandara Dhoho memang pekerjaan yang tidak mudah, namun jika seluruh pihak bekerja sama, ia yakin bandara ini akan terus berkembang.
“Alhamdulillah semua daerah di Selingkar Wilis menyetujui (melakukan perjalanan dinas lewat bandara, Red),” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Adi Suwignyo menilai peningkatan pariwisata di Kediri bisa turut mengembangkan Bandara Dhoho.
Namun, ia juga berharap daerah lain di wilayah selatan Jatim turut mengembangkan pariwisatanya juga jika ingin lebih menghidupkan Bandara Dhoho.
"Daerah di Selingkar Wilis harus kompak agar Bandara Kediri bisa jadi pintu masuk bagi banyak wisatawan. Tidak hanya wisatawan domestik, namun juga internasional,” paparnya.
Ia menambahkan, Kediri memiliki potensi wisata alam, mulai dari Gunung Kelud, Gunung Wilis, Air Terjun Dolo, dan sebagainya.
“Kami dan 13 daerah lain juga akan mengadakan event wisata tahunan untuk menarik wisatawan,” pungkasnya.