Frida Kahlo, pelukis Meksiko yang mengubah luka dan tubuhnya menjadi karya seni dan suara perempuan. (Dok. gbm.com)
JawaPos.com - Frida Kahlo bukan sekadar pelukis ikonik asal Meksiko, ia adalah simbol perlawanan, keberanian, dan suara perempuan dalam seni modern. Melalui lukisan-lukisan yang jujur dan penuh luka, Kahlo menantang norma patriarki dan membuka ruang bagi narasi perempuan yang selama ini terpinggirkan dalam sejarah seni.
Lahir pada 1907, Kahlo mengalami kecelakaan tragis di usia 18 tahun yang membuatnya harus menjalani hidup dengan rasa sakit kronis. Namun dari penderitaan itu, lahirlah karya-karya yang mengguncang dunia.
“Saya melukis diri saya sendiri karena saya adalah subjek yang paling saya kenal,” ujarnya dalam kutipan yang dikutip oleh ARTnews. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana tubuh dan pengalaman pribadinya menjadi medium utama dalam berkarya.
Lukisan seperti The Broken Column (1944) menggambarkan tubuhnya yang terbelah, dipenuhi paku, dan menangis. Namun, alih-alih menampilkan kelemahan, Kahlo justru menegaskan kekuatan perempuan dalam menghadapi rasa sakit.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Sampaikan Selamat Masa Adven Bagi Umat Katolik, Jelang Hari Raya Natal 2025
“Frida Kahlo menggunakan rasa sakit sebagai bahasa visual untuk menyampaikan pengalaman perempuan yang tak terwakili,” tulis Tara Parker-Pope dalam The New York Times.
Kahlo juga menantang standar kecantikan dan identitas budaya. Ia kerap melukis dirinya dalam balutan pakaian tradisional Tehuana, lengkap dengan alis menyatu dan kumis tipis. Ini bukan sekadar estetika, melainkan pernyataan politik.
“Ia menolak norma kolonial dan patriarki dengan menjadikan tubuhnya sebagai medan perlawanan,” tulis Zachary Small dalam laporan The New York Times tentang rekor lelang lukisan Kahlo.
Karya-karya Kahlo kini menjadi inspirasi bagi banyak seniman perempuan kontemporer. Dari Tracey Emin hingga Zanele Muholi, banyak yang mengakui pengaruh Kahlo dalam membuka jalan bagi seni yang lebih jujur, personal, dan politis.
“Frida Kahlo adalah pelopor dalam menjadikan pengalaman perempuan sebagai pusat narasi artistik,” tulis Karen Chernick di ARTnews.
Baca Juga: Gereja Katolik Menyambut Masa Adven, Penantian dan Persiapan untuk Menyambut Yesus Kristus
Namun, penting untuk tidak mereduksi Kahlo hanya sebagai ikon pop. Meski wajahnya kini terpampang di kaus dan mug, warisan sejatinya jauh lebih dalam.
“Frida Kahlo bukan sekadar simbol. Ia adalah pengingat bahwa seni bisa menjadi alat perlawanan dan penyembuhan,” tulis The Guardian dalam laporan tentang seni dan gerakan #MeToo.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022