
Foto wajah Santa Elizabeth Ann Seton. (www.catholicnewsagency.com)
JawaPos.com - Di gereja Katolik, hampir di semua aspek kehidupan terdapat seorang pelindung yang disebut santo atau santa. Mendekati Perayaan Orang Suci di gereja Katolik, juga akan merayakan pengenangan orang-orang yang sudah meninggal pada Misa Arwah. Pada perayaan tentang orang-orang yang sudah meninggal pasti akan merasa sedih dan berduka. Di situlah Santa Elizabeth Ann Seton hadir.
Dilansir dari Women History, Santa Elizabeth Ann Seton adalah orang Amerika pertama yang dikanonisasi menjadi seorang santa. Beliau dibesarkan di gereja Episkopal, tapi kemudian beralih ke gereja Katolik.
Beliau lahir di Kota New York pada 28 Agustus 1774 dengan nama Elizabeth Ann Bayley, di sebuah keluarga Kristen Episkopal yang kaya. Ayahnya adalah salah satu dokter pertama di Kota New York.
Akan tetapi, ibunya meninggal ketika Elizabeth masih berumur tiga tahun. Diperkirakan karena kehamilan yang sulit saat mengandung adik Elizabeth, Catherine, yang juga meninggal setahun setelahnya.
Pada umur 19 tahun, Elizabeth menikah dengan William Magee Seton pada 25 Januari 1794. Lalu mereka memiliki lima anak, Anna Maria, William, Richard, Catherine, dan Rebecca.
Keluarga Seton ini sering melakukan kegiatan sosial untuk orang-orang yang kekurangan dan tekun beribadah di gereja Episkopal.
Pada akhir 1700-an, keluarga Elizabeth dilanda kemalangan dan duka karena suaminya, William jatuh sakit. Suaminya terkena tuberculosis.
Elizabeth dan anak pertamanya, Anna Maria, membawa William ke Italia untuk mencari pengobatan. Akan tetapi ketika mereka sampai di Leghorn, mereka dikarantina selama sebulan. Setelah karantina tersebut, William meninggal delapan hari kemudian.
Selama di Italia, mereka tinggal bersama Filicchi Bersaudara yang merupakan rekan kerja almarhum suaminya. Di sana, Elizabeth berkenalan dan mempelajari ajaran Katolik Roma. Ia pun menjadi tertarik pada doktrin ekaristi.
Setelah kembali ke New York pada Juni 1804, ia menjadi gundah akan kepercayaannya dan pada akhirnya ia beralih ke Katolik Roma pada 1805. Ia dibaptis dan memilih nama Mary pada 1806. Pilihan untuk berpindah agama tersebut membuat Keluarga Seton mengalami kesulitan finansial dan diskriminasi.
Akhirnya mereka pindah ke Baltimore, Maryland, atas undangan dari beberapa pastor pada 1808 dan membangun sekolah khusus perempuan di sana.
Perempuan-perempuan Katolik sepenjuru negeri bergabung ke sekolah tersebut dan kemudian mereka membangun sebuah biara. Para perempuan ini lalu pindah ke Emmitsburg, Maryland, pada 1809 untuk memulai kehidupan mereka sebagai Sisters of Charity of St. Joseph’s. Mereka adalah seminari biarawati pertama di Amerika Serikat.
Elizabeth kemudian menjadi superior mereka dan mendapatkan panggilan Ibu. Beliau bekerja di posisi tersebut selama 12 tahun kemudian.
Elizabeth dan 18 saudari lainnya membuat janji akan hidup miskin, murni, taat, dan tekun bekerja untuk para orang miskin. Mereka memperbarui janji mereka setiap tahunnya.
Pada tahun 1814, para biarawati mendapatkan misi pertama mereka di luar Emmitsburg untuk bekerja di sebuah panti asuhan di Philadelphia.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
