Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Oktober 2018 | 20.53 WIB

Gabung Pijat Online, Penyandang Disabilitas ini Bangun Rumah Sendiri

Sumadi - Image

Sumadi

JawaPos.com - Pemanfaatan teknologi membuang segala batasan bagi penyandang disabilitas. Sumadi salah satu bukti nyata. Bukan sekadar mengembangkan karir, difabel asal Jepara, Jawa Tengah, itu bahkan mampu mewujudkan mimpi punya rumah sendiri sejak bergabung dengan GO-Massage, salah satu layanan dari Gojek.


Sumadi menjadi mitra GO-Massage sejak 2015. Saat itu dia sedang cukup aktif menawarkan jasanya melalui media sosial. Gara-gara itu juga sedikit banyak mulai terbiasa dengan platform digital.


"Walaupun seorang tunanetra, bukan berarti saya tidak bisa melakukan hal yang berarti bagi orang terdekat saya, atau bukan berarti saya tidak dapat bersosialisasi dengan banyak orang. Karena tunanetra bukanlah akhir dari segalanya," ucap Sumadi di Jakarta, Senin (15/10).


Sebagai penyandang disabilitas, kata Sumadi, tidak perlu diberi rasa iba dan jangan dipandang sebelah mata. Sebaliknya, hanya butuh peluang yang sama.


Melalui teknologi inilah, kata dia, hal itu bisa diwujudkan. Sumadi berprinsip keterbatasan tidak boleh membatasi keadaannya. Dia percaya bahwa tunanetra bukan seharusnya dikasihani, tapi dipercaya bisa mandiri.


”Terus terang kalau saya melihat teman disabilitas yang ingin dikasihani, terus terang saya nggak suka. Karena sikap mereka yang seperti itu yang membuat orang jadi ragu. Sebenarnya apapun pekerjaan bisa, asal ada kemauan,” tegasnya.


Sejak bergabung GO-Massage, ayah dari dua orang anak itu menerima pemesanan secara rata-rata tiga order di setiap harinya. Dengan rata-rata orderan itu, Sumadi sudah mampu menyisihkan sebagian penghasilan untuk menyicil rumah dengan cara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Cileungsi, Jawa Barat. Memanfaatkan program hasil kerjasama GO-JEK dengan lembaga keuangan perbankan.


Penghasilannya selama bergabung di GO-Massage setelah dipotong untuk cicilan KPR itu, menurutnya, sudah bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pencapaian Sumadi saat ini buah dari perjalanan panjang setelah sebelumnya melewati perjalanan berliku ketika memutuskan mengadu nasib ke Jakarta pada 1990.


Saat itu, Sumadi bertekad mencari rezeki sebagai tukang pijat di ibukota. Sumadi kehilangan penglihatannya sejak berusia 10 tahun lantaran mengalami penurunan kualitas penglihatan (low vision) walau tidak mengalami kecelakanan atau sakit di bagian matanya. Berbekal semangat dan cita-cita, Sumadi belajar pijat di panti pijat Dinas Sosial DKI Jakarta.


"Sejak saat itu saya mulai menekuni pijat memijat," katanya.


Selain di Dinas Sosial DKI Jakarta, kemampuan memijatnya juga didapat dari Panti Sosial Bina Netra. Berbagai kesulitan melanda karena pada awalnya jumlah pelanggan masih sedikit. Sebaliknya kebutuhan hidup di Jakarta berjalan normal dan relatif tinggi.


Keberuntungan sempat menghampiri Sumadi ketika bertemu salah satu pelanggan yang mengajaknya bergabung dengan sebuah panti pijat. Sejak itu ia pun mulai cari kontrakan sendiri di Pademangan, Jakarta Utara.


Pria yang menikah pada tahun 1993 itu kemudian mampu mengembangkan usaha panti pijat secara swadaya. Secara perdana panti pijat miliknya dibuka di Tebet, Jakarta Selatan.


Panti pijat sekaligus kediaman Sumadi dan keluarganya (kontrakan) itu kerapkali dikunjungi pelanggan setia. “Mengingat rumah saya di gang sempit, jadi beberapa lebih nyaman bila dipijat di rumahnya,” kenang Sumadi.


Sumadi berharap masyarakat bisa mengubah persepsi terhadap disabilitas. Ia ingin batasan antara disabilitas dan non disabilitas bisa dikikis menjadi kepercayaan. Bukan keraguan.

Editor: Saugi Riyandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore