
Ilustrasi Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah
JawaPos.com – Momentum Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada hari ini, Jumat (15/6), disambut suka cita oleh semua umat muslim. Tak terkecuali dengan komisioner ombudsman, Ninik Rahayu, meski lebaran kali ini tak mudik ke kampung halamannya di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
"Biasanya (lebaran) melakukan silaturahmi dengan orang tua dan keluarga besar. Sejak dua terakhir kehilangan kedua orang tua dan mertua berpulang (jadi) tidak mudik ingin menikmati suasana Jakarta," tutur Ninik, saat ditanya perihal ritual lebarannya oleh JawaPos.com, Jumat (15/6).
Setiap lebaran, Ninik mengaku terngiang masa-masa kecilnya dulu sewaktu masih tinggal di kampung halamannya.
Kala itu, dia mengaku kerap membantu ibunya menyiapkan aneka makanan saat momentum lebaran.
"Semua anaknya (ortu) yang 13 orang sibuk menyiapkan makanan lebaran. Membuat kue kering, potong ayam dan masak-masakan untuk dimakan setelah pulang dari Salat Idul Fitri," urainya.
Selain itu, ada momen terindah yang dirasakan Ninik bersama ibunda (Almarhumah) HJ Zaitun dan Ayahnya (Almarhum) H Maksoem setiap kali lebaran tiba. Yakni, setiap pagi sebelum subuh kedua orang tuanya sibuk membangunkan anak-anaknya supaya bersiap mandi dan pergi ke lapangan untuk mengikuti Salat Ied.
Selanjutnya, setelah Salat Ied, kata Ninik, ayahnya kemudian mengajak anak-anaknya bersaliturahmi ke sanak familinya, setelah semua keluarga inti menyantap makanan yang telah disiapkan ibunya.
"Bapak saya selalu mengajak anak-anaknya untuk berkunjung ke sanak famili berkunjung ke satu rumah ke rumah yang lain, dengan tujuan agar tidak sampai anak-anaknya tidak mengenal saudaranya meski saudara jauh," katanya.
Kemudian, ada juga tradisi lain yang menarik hatinya saat menjelang lebaran tiba. Yakni saat dirinya dan kakak-kakaknya diminta untuk mengantarkan makanan kue-kue basah untuk orang yang dituakan.
"Meski kami dalam kondisi puasa, kami senang diminta mengantarkan makanan itu. Selain bisa silaturahmi, biasanya para sanak saudara akan memberi kami sekeping uang untuk lebaran," ujarnya.
Nantinya, uang-uang yang Ninik terima dari sanak familii, biasanya dia gunakan untuk membayar becak, yang membawa dia berkeliling alun-alun kota Lamongan. Dengan menaiki naik becak di masa lebaran, Ninik merasa hal ini menjadi kemewahan dan kesenangan tersendiri baginya saat kecil dulu.
"Zaman saya kecil tidak ada pakai amplop (uang lebaran). Itu hanya uang receh, Rp 5 ribu atau Rp 10 rupiah saja untuk kami yang masih anak-anak kecil," katanya.
Kini, tradisi tersebut dia tetap lestarikan setelah dirinya beranjak dewasa dan berkeluarga. Hal ini dia lakukan sebagai bentuk rasa syukur dan perhatian pada keluarga yang kurang mampu.
"Bapak dan ibu saya dulu sering mengajak saya memberi perhatian pada keluarga yang memiliki anak yatim, para janda yang sudah tua dan fakir miskin," pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
