
KAMPUNG SANTRI: Para santri putra setelah mengaji di Masjid Pathok Negoro, Mlangi, Sleman, Sabtu (8/4) pekan lalu.
Ada Tradisi Salawatan Bahasa Jawa pada Malam Songolikuran
Kuatnya tradisi santri, ditambah pengaruh budaya Jawa yang kental, menjadikan suasana di Mlangi, Sleman, khas. Semua pondok pesantren di sana dikelola secara mandiri.
MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman
---
MLANGI seperti tak pernah tidur di Ramadan seperti ini. Masjid Pathok Negoro yang berada di padukuhan di Sleman, Jogjakarta, itu terus berdenyut oleh beragam kegiatan.
Pengajian dan semaan Alquran dilakukan saban hari oleh semua kalangan. Bahkan saat tengah malam pun dihelat salat Tasbih hingga pukul 01.00 dini hari.
’’Masjid (Pathok Negoro) ini memiliki sejarah panjang. Bukan hanya sebagai tempat beribadah, tapi dulu juga memperkuat Keraton Mataram dari penjajahan Belanda,” ujar Ikhsanudin, salah satu ketua takmir Masjid Pathok Negoro, kepada Jawa Pos Radar Jogja Sabtu (8/4) lalu.
Masjid Pathok Negoro ini memang wajah paling ikonik padukuhan (dusun) yang terletak di Kalurahan (Desa) Nogotirto, Kapanewon (Kecamatan) Gamping. Orang-orang juga berduyun-duyun ke Mlangi karena kuatnya atmosfer sebagai kawasan santri.
Di Mlangi ada delapan pondok pesantren (ponpes). Padukuhan tetangga, Sawahan, yang dulunya merupakan bagian dari Mlangi sebelum dipecah malah punya sembilan ponpes. Jadilah cukup mengganti ’’kota’’ dengan ’’desa’’, suasana pada lagu ’’Kota Santri’’ Nasida Ria tergambar kuat di sini.
Masjid Pathok Negoro memiliki 16 tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati. Karakter arsitekturnya khas masjid Jawa. Terdapat unsur limasan yang mirip bangunan Keraton Ngayogyakarta. Kedua bangunan memang berdiri pada era yang hampir bersamaan pada pertengahan abad ke-18.
’’Bagian dalam masjid masih mempertahankan bentuk aslinya. Hanya bagian atap dan serambi yang sudah ada perbaikan dari dinas kebudayaan provinsi pada 2014,” ungkap Ikhsan.
Pathok Negoro memiliki arti sebagai penanda suatu negara atau wilayah. Pathok artinya penanda yang dapat diartikan pula sebagai landasan maupun pedoman.
Pathok Negoro menjadi salah satu penanda adanya Kasultanan Ngayogyakarta. Sebagai pathok untuk negoro, dibangunlah empat masjid di empat penjuru mata angin. Yang mana jika ditarik garis lurus memotong sumbu filosofis.
Yakni, sebelah utara Masjid Pathok Negoro Plosokuning, sebelah timur Masjid Pathok Negoro Babadan. Sebelah selatan Masjid Pathok Negoro Dongkelan dan sebelah barat Masjid Pathok Negoro Mlangi. Dengan pusat pemerintahan berada di Keraton Ngayogyakarta. Masjid Pathok Negoro dibangun pada masa Hamengku Buwono I.
Pathok Negoro dikelilingi area pemakaman. Ini juga yang menarik orang-orang dari berbagai daerah untuk datang: untuk berziarah.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
