Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 April 2023 | 21.05 WIB

Menikmati Sunset di Pantai Kemantren, Selesai Berziarah Bisa Menyantap Menu Khas Pesisir

PANORAMA SUNSET: Kawasan lumpur Porong ketika sore. Daerah itu bakal dikembangkan Pemkab Sidoarjo sebagai tempat wisata alam untuk menggairahkan ekonomi warga sekitar. (Dite Surendra/Jawa Pos) - Image

PANORAMA SUNSET: Kawasan lumpur Porong ketika sore. Daerah itu bakal dikembangkan Pemkab Sidoarjo sebagai tempat wisata alam untuk menggairahkan ekonomi warga sekitar. (Dite Surendra/Jawa Pos)

Di Antara Legasi Syaikh Maulana Ishaq

Jejak Syaikh Maulana Ishaq bertebaran di Kemantren. Mulai makam, masjid, sampai sumur yang ada kaitannya pula dengan sang putra, Sunan Giri. Menutup sore di tempat ini bisa sambil menikmati senja memerah.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Lamongan

---

IKANNYA dijamin segar, lha wong warungnya saja di tepi pantai. Ada rasa asam dan pedas yang menemani kesegaran si kepala manyung.

Makannya sambil menghadap ke Pantai Kemantren, Kabupaten Lamongan, yang merupakan bagian dari deretan pantai utara di Jawa Timur, pula.

Yang membaca ini dalam keadaan puasa, maaf kalau kemudian jadi mengharap azan Magrib segera berkumandang.

”Pastinya rasa ikan manyungnya masih fresh, di Surabaya kan jarang,” ungkap Muhammad Rizki, pengunjung asal Surabaya, ketika ditemui di lokasi tersebut beberapa hari sebelum memasuki Ramadan (17/3).

Istimewanya lagi, itu semua cuma bonus. Karena sejatinya sajian utama di destinasi yang masuk wilayah Kecamatan Paciran tersebut adalah beragam jejak bersejarah Syaikh Maulana Ishaq.

Saat memasuki Ramadan memang tak seramai hari-hari sebelumnya ketika rombongan dari berbagai kota datang menggunakan mobil pribadi, pikap, sampai bus. Tapi, memasuki 10 hari terakhir, tempat di mana Syaikh Maulana Ishaq yang juga ayah Sunan Giri itu dimakamkan kembali hiruk.

Makam Syaikh Maulana Ishaq berada tepat di bibir Pantai Kemantren. Lokasinya pun berdekatan dengan Lamongan Shorebase. Sore hari, merahnya senja terlihat dengan jelas dari sana. Itu pula yang membuat para peziarah atau anak-anak muda pencari senja betah di tempat tersebut.

Syaikh Maulana Ishaq hidup di abad ke-14. Kedatangannya ke Kemantren adalah untuk melarikan diri dari ancaman yang dia terima di Blambangan, kerajaan di ujung timur Jawa tempat dia menikahi raja setempat Dewi Sekardadu setelah berhasil menyembuhkannya dari penyakit.

Revitalisasi kawasan tersebut telah beberapa kali dilakukan. Lorong peziarah menuju makam, misalnya, dibuat layaknya bangunan Jawa masa silam. Begitu juga bagian gapura yang menghadap laut.

Jejak Syaikh Maulana Ishaq di Kemantren sangat kuat. Selain makam dan masjid yang berada di sisi timurnya, sumur yang dipercaya dibuat oleh Syaikh Maulana Ishaq juga masih mengalir. Lokasinya persis di bawah masjid. Sumur ini airnya tawar. ”Padahal, dulu lokasinya dikelilingi laut,” kata Sumarji, pengurus Makbaro Maulana Ishak.

Sumarji bercerita, masjid yang bernama Al Abror memang sudah direnovasi. Tapi, bangunan intinya yang berupa kayu jati yang merupakan legasi Syaikh Maulana Ishaq masih utuh.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore