Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Maret 2024 | 20.20 WIB

Perbedaan Awal Puasa Ramadhan 1445 H, Jubir Menag: Hormati Pilihan dan Keyakinan Masing-Masing!

Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie./Kemenag.go.id - Image

Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie./Kemenag.go.id

JawaPos.com - Masih kerap kali menjadi perbincangan dengan awal mula bulan Ramadhan dan kapan memulai ibadah puasa bagi umat Islam.

Ada yang lebih dahulu memulai untuk menjalankan ibadah puasa bahkan telah melaksanakan sholat tarawih, tetapi ada juga yang masih menunggu sidang Isbat yang akan diumumkan.

Dengan adanya perbedaan ini Kementerian Agama menghimbau masyarakat untuk mengedepankan sikap saling menghormati terhadap perbedaan awal puasa Ramadan 1445 H/2024 M.

Selain itu, dialog para pihak juga patut dikedepankan untuk bisa memahami dan saling berbagi informasi terkait argumentasi masing-masing dalam mengawali ibadah puasa.

Hal ini diungkapkan Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie lantaran akan adanya perbedaan awaln puasa di bulan Ramadhan.

Mayoritas umat Islam akan mengawali puasa Ramadan 1445 H pada 11 dan atau 12 Maret. Majelis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah sudah mengumumkan awal puasa Ramadan pada 11 Maret 2024.

Sementara Pemerintah baru akan menggelar sidang isbat awal Ramadan 1445 H pada 10 Maret 2024. Sidang akan memutuskan apakah puasa Ramadan tahun ini akan dimulai pada 11 atau 12 Maret.

Namun demikian, ada kelompok jemaah yang sudah mulai puasa pada 7 Maret. Ada juga yang akan mulai berpuasa pada 10 Maret.

“Kita hormati pilihan dan keyakinan umat Islam dalam mengawali puasa Ramadan 1445 H/2024 M. Sikap saling menghormati perlu dikedepankan dalam menyikapi perbedaan,” sebut Anna Hasbie dikutip dari Kemenag.go.id (10/3).

Anna Hasbie meskipun ada perbedaan dalammenjalani ibadah puasa, kita diminta untuk tetap saling menghormati sesama umat muslim.

Sebab, ilmu pengetahuan sudah semakin maju dan berkembang, termasuk terkait astronomi.

Penentuan awal bulan Hijriyah bisa didekati secara empiris melalui hisab dan atau rukyatul hilal, tidak semata berdasar keyakinan spiritual semata. Sehingga, argumentasinya juga ilmiah.

“Kemenag terus membuka ruang dialog dan diskusi terkait penentuan awal Ramadan. Dari situ diharapkan akan terjadi proses tukar informasi dan pemahaman terkait pilihan dalam mengawali puasa Ramadan,” sambungnya.

Muhammadiyah, misalnya, menetapkan Ramadan pada 11 Maret karena argumentasi hisab _wujudul hilal_. Pemerintah menggunakan pendekatan Hisab sebagai informasi awal dan Rukyatul Hilal sebagai konfirmasi.

“Bagaimana argumentasi awal Ramadan 1445 H pada 7 Maret atau 10 Maret? Kita bisa diskusikan agar bisa saling memberikan pemahaman,” sebut Anna Hasbie.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore