
Dwi Ratnasari didampingi dokter umum RS PKU Wonosobo dr Ivan Jazid Adam saat menjalani hemodialisis.
JawaPos.com – Sudah hampir empat tahun Dwi Ratnasari harus bergantung pada mesin cuci darah. Perempuan yang akrab disapa Sari itu menjalani hemodialisis rutin akibat hipertensi yang membuat gagal ginjal. Di tengah kondisi kesehatan yang berat tersebut, Sari mampu menjalani kehamilan dengan risiko tinggi.
Keluhan awal yang dirasakan Sari adalah tubuh yang terus melemah. Ia mengaku tidak memiliki tenaga untuk beraktivitas. Tekanan darahnya tinggi dan sulit dikendalikan meski telah mengonsumsi obat. Kondisinya semakin memburuk hingga muncul nyeri di dada sebelah kiri.
“Awalnya saya cek ke puskesmas. Karena keluhan makin berat, akhirnya dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah Wonosobo dan disarankan menjalani cuci darah,” kata Sari.
Saat menjalani pemeriksaan lanjutan, Sari belum menyadari bahwa dirinya tengah mengandung. Ia baru mengetahui kehamilannya setelah mengalami mual berkepanjangan yang tidak kunjung hilang meski telah minum obat.
“Biasanya kalau mual minum obat sembuh. Ini enggak. Setelah dicek ternyata positif hamil, usia kandungan sekitar tujuh sampai delapan minggu,” ujarnya.
Kabar kehamilan tersebut sempat membuat Sari diselimuti kecemasan. Ia khawatir kondisi kesehatannya berdampak pada keselamatan diri dan janin.
“Takut enggak panjang umur. Takut anaknya kenapa-kenapa,” ucapnya.
Meski demikian, Sari memilih bertahan dan menjalani kehamilan dengan pengawasan ketat tim medis. Selama hamil, ia harus menjalani hemodialisis lebih intensif, yakni hingga tiga kali dalam sepekan. Lebih sering dibanding pasien gagal ginjal pada umumnya.
Dwi Ratnasari menunjukkan kartu JKN digital di aplikasi Mobile JKN. (Istimewa).
Jika jadwal cuci darah terlewat, tubuhnya langsung memberi respons. Ia mengaku sulit tidur, karena harus bolak-balik buang air kecil dan merasa cepat lelah.
“Kalau sudah HD itu badan lebih enak, bisa tidur. Kalau belum, pipis terus hampir tiap jam,” katanya.
Sari mengaku bersyukur karena selama menjalani pengobatan hingga persalinan mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama dari sisi pembiayaan.
“Alhamdulillah, dari awal cuci darah, kontrol rutin sampai melahirkan semuanya dijamin BPJS Kesehatan. Saya merasa sangat terbantu,” ujarnya.
Menurutnya, jaminan pembiayaan tersebut membuatnya bisa fokus menjalani pengobatan dan menjaga kehamilan tanpa terbebani biaya.
Kini, Sari dan bayinya dinyatakan dalam kondisi sehat. Ia berharap pengalaman yang dialaminya bisa menjadi penguat bagi pasien lain yang tengah berjuang dengan kondisi serupa.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
