
Obsesi Terhadap Tubuh Sempurna. (Pexels.com)
JawaPos.com – Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah adonis complex, sebuah kondisi psikologis ketika seseorang, terobsesi secara berlebihan terhadap bentuk tubuh ideal.
Obsesi ini bukan sekadar ingin tampil sehat, tetapi sudah mengarah pada kegelisahan, ketidakpuasan ekstrim, serta kebutuhan untuk terus memperbaiki penampilan meski tubuh sudah tampak bugar.
Adonis complex seringkali berkaitan dengan standar kecantikan dan maskulinitas yang tidak realistis.
Melansir dari laman Yourtango pada Jumat (21/11), menyebutkan ada tujuh tanda psikologis seseorang mengidap adonis complex.
Tekanan dari media sosial, budaya gym, hingga perbandingan sosial menjadi pemicu meningkatnya fenomena ini.
Penelitian psikolog dalam National Library of Medicine, menyebutkan bahwa obsesi semacam ini dapat berkembang menjadi gangguan citra tubuh (body dysmorphic disorder) dan mempengaruhi relasi, pekerjaan, hingga kesehatan mental secara keseluruhan.
Berikut tujuh tanda psikologis seseorang mengidap adonis complex, yang penting diwaspadai agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Penderita adonis complex cenderung memantau tubuh secara berlebihan: mengecek cermin berkali-kali, menimbang setiap hari, mengukur lingkar lengan, atau memotret perubahan tubuh.
Aktivitas ini menjadi rutinitas yang menghabiskan waktu dan mempengaruhi suasana hati.
Salah satu tanda paling jelas adalah ketidakpuasan ekstrem. Walaupun tubuh sudah atletis, mereka tetap merasa kurang, kurang berotot, kurang ramping, atau kurang simetris.
Rasa tidak cukup ini membuat mereka terus mengejar standar yang mustahil dan malah berdampak pada kesehatan.
Olahraga menjadi aktivitas kompulsif, merasa bersalah bila melewatkan sesi gym, bahkan memaksakan diri berlatih meski sedang sakit atau cedera. Tujuannya bukan lagi kesehatan, tetapi perfection.
Adonis complex juga ditandai dengan pola makan ekstrem, menghitung kalori secara obsesif, menghindari banyak makanan, atau mengkonsumsi suplemen berlebihan.
Perbandingan sosial menjadi pemicu utama rasa rendah diri. Orang dengan kondisi ini mudah merasa terancam ketika melihat tubuh orang lain, baik di gym, media sosial, atau bahkan selebriti.
Komentar ringan tentang tubuh dapat memicu kecemasan, kemarahan, atau kebutuhan untuk memperbaiki penampilan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022