
Anak kecil yang duduk bersedih dengan boneka (dok. Freepik)
JawaPos.com - Trauma masa kecil bisa datang dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, emosional, maupun seksual, penelantaran, hingga pengalaman ekstrem seperti menyaksikan bencana alam, peristiwa teror, atau harus hidup dengan tekanan dalam keluarga yang tidak biasa. Tidak jarang, kehilangan orang tua atau figur penting juga dapat memicu trauma mendalam pada seorang anak.
Menurut Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA), lebih dari dua pertiga anak pernah mengalami pengalaman traumatis sebelum usia 16 tahun.
Bahkan, setidaknya 1 dari 7 anak mengalami kekerasan atau penelantaran setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan betapa serius dan meluasnya persoalan trauma masa kecil di berbagai negara.
Trauma yang dialami di masa kecil tidak hanya berhenti ketika anak tumbuh besar. Banyak penelitian menemukan bahwa trauma dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang, seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, kesulitan membangun hubungan sehat, hingga risiko lebih tinggi mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).
Beberapa anak bahkan dapat membawa pola pikir negatif dari masa kecil ke dalam kehidupan dewasanya, yang memengaruhi kepercayaan diri dan cara mereka melihat dunia.
Karena itulah, terapi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu anak maupun orang dewasa yang masih menyimpan luka dari pengalaman masa kecilnya. Melansir dari Medical News Today, berikut beberapa jenis terapi untuk trauma masa kecil.
1. Cognitive Processing Therapy (CPT)
CPT merupakan bentuk terapi perilaku kognitif (CBT) yang berfokus pada cara seseorang menafsirkan pengalaman traumatis. Anak atau pasien dibimbing untuk mengenali pikiran-pikiran negatif yang muncul akibat trauma, lalu diajak untuk menggantinya dengan perspektif yang lebih sehat.
Terapi ini biasanya berlangsung sekitar 12 sesi, dan bertujuan mengurangi kekuatan emosi yang melekat pada memori traumatis
2. Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT)
Berbeda dengan CPT, terapi ini menekankan peran orang tua atau pengasuh. TF-CBT meyakini bahwa dukungan orang tua sangat berpengaruh pada proses pemulihan anak. Dalam setiap sesi, biasanya terapis meluangkan waktu untuk anak dan orang tua secara terpisah, lalu menggabungkan keduanya agar komunikasi menjadi lebih baik.
Dengan cara ini, anak merasa didukung, sementara orang tua belajar memahami cara mendampingi anak menghadapi trauma.
3. Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR)
EMDR menggunakan stimulasi sensorik, seperti gerakan mata, untuk membantu pasien memproses kenangan traumatis. Terapi ini berbeda karena tidak mengharuskan pasien menceritakan trauma secara detail atau berulang kali.
Fokusnya adalah melemahkan intensitas emosi yang muncul dari ingatan traumatis. Banyak orang merasa lebih lega hanya dalam beberapa sesi, karena ingatan yang sebelumnya menakutkan menjadi lebih netral.
4. Prolonged Exposure Therapy (PE)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
