Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 April 2026 | 17.52 WIB

4 Teknik Sederhana yang Dapat Membantu Memperbaiki Kerusakan Emosional di Otak Akibat Trauma

Ilustrasi orang yang sedang menulis. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang sedang menulis. (Freepik)

JawaPos.Com - Luka emosional sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya bisa terasa dalam waktu yang sangat lama. 

Pikiran menjadi lebih mudah cemas, tubuh cepat lelah tanpa sebab yang jelas, dan perasaan seperti tidak pernah benar-benar tenang. 

Trauma bukan hanya tentang apa yang terjadi di masa lalu, melainkan tentang bagaimana pengalaman tersebut tertinggal dan membentuk cara seseorang merasakan dunia.

Ketika seseorang mengalami kejadian yang mengguncang, otak bekerja dengan cara yang berbeda. 

Bagian otak yang mengatur rasa aman bisa menjadi lebih sensitif, sementara bagian yang membantu berpikir jernih sering kali melemah. 

Akibatnya, seseorang bisa merasa terjebak dalam ingatan yang berulang, ketakutan yang sulit dijelaskan, atau reaksi emosional yang terasa berlebihan.

Meski begitu, kondisi ini bukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Otak memiliki kemampuan luar biasa yang dikenal sebagai plastisitas, yaitu kemampuan untuk berubah dan beradaptasi. 

Dengan pendekatan yang tepat, luka emosional dapat diproses secara perlahan hingga akhirnya tidak lagi mendominasi kehidupan.

Dilansir dari Yourtango, inilah empat teknik yang dapat membantu proses pemulihan luka emosional di otak akibat trauma mendalam.

1. Melatih Kesadaran Diri Melalui Teknik Mindfulness

Ketika trauma masih membekas, pikiran sering kali terjebak antara masa lalu dan kekhawatiran masa depan. 

Sulit sekali untuk benar-benar hadir di saat ini. Inilah yang membuat seseorang merasa tidak tenang, bahkan ketika situasi di sekitarnya sebenarnya aman.

Mindfulness menjadi salah satu cara yang cukup efektif untuk mengembalikan kesadaran tersebut. 

Teknik ini mengajak seseorang untuk memperhatikan apa yang sedang dirasakan tanpa menghakimi. Fokus diarahkan pada napas, sensasi tubuh, atau lingkungan sekitar.

Misalnya, saat perasaan cemas muncul, alih-alih menolaknya, seseorang bisa mencoba mengamati: bagaimana napas terasa, bagian tubuh mana yang tegang, dan emosi apa yang muncul. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore