
Ilustrasi orang mengalami depresi berat. (Freepik)
JawaPos.com – Jika Anda pernah mendengar tentang kortisol, kemungkinan besar hormon ini dikaitkan dengan stres jangka panjang. Dimana kortisol sendiri sudah pasti memiliki reputasi buruk dalam hal ini.
Alasan mengapa kortisol terkenal adalah karena efek kadarnya yang tinggi secara terus-menerus pada tubuh Anda. Beberapa hal menakutkan terjadi pada tubuh seseorang selama depresi.
Saat Anda depresi, kadar kortisol Anda melonjak saat seharusnya kadarnya sedang rendah. Hubungan antara kortisol dan depresi dapat menemukan bahwa kortisol berhubungan dengan timbulnya depresi, kekambuhan, resolusi, dan kerentanan yang berkelanjutan.
Berikut 4 gejala yang dialami oleh seseorang yang secara sadar mengalami depresi berat, seperti dilansir dari laman YourTango.
Kortisol sangat penting bagi kehidupan, dan kita semua terkadang memiliki kadar kortisol yang tinggi. Saat seseorang mengalami lonjakan kortisol di pagi hari dapat membantu orang tersebut bangun dari tidur dan memulai hari dengan sedikit semangat.
Namun, di sisi lain kortisol juga dapat membuat Anda lebih mungkin terkena infeksi. Baik stres maupun depresi telah dikaitkan dengan gangguan fungsi imun dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit tertentu.
Kini jelas bahwa perubahan adaptif diakibatkan oleh depresi yang menyebabkan hipoaktivitas reseptor glukokortikoid pada sel imun dan di daerah limbik otak yang dapat menjadi penyebab stres berat pada seseorang.
Biasanya, kadar kortisol Anda akan menurun sepanjang hari, membuat Anda merasa lelah dan segar menjelang tidur. Inilah sebabnya mengapa ketika Anda mengalami depresi, biasanya kondisinya paling buruk di pagi hari dan membaik seiring berjalannya hari.
Jika kadar kortisol yang tinggi di luar rutinitas pagi dapat menjadikan Anda merasa gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak di malam hari. Salah satu penelitian mengatakan bahwa tingkat keparahan insomnia yang lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat kortisol pagi yang lebih tinggi, depresi, dan ketegangan hingga kecemasan.
Kortisol dapat memecah otot dan jaringan ikat dimana dalam hal ini dapat membuat Anda tampak lebih cepat tua. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa gangguan depresi mayor ditandai dengan banyaknya mediator yang berpotensi merusak dan kurangnya mediator yang bersifat protektif atau restoratif.
Faktor-faktor ini berinteraksi dalam meningkatkan kemungkinan penyakit fisik dan percepatan penuaan pada tingkat sel.
Kortisol dapat membuat Anda hampir tidak mungkin menghilangkan berat badan ekstra, terutama di bagian tengah tubuh. Salah satu penelitian menunjukka bahwa pasien depresi hiperkortisolemik akan menderita resistensi insulin dan peningkatan lemak visceral.
Fakta bahwa hiperkortisolemia membalikkan hilangnya lemak terkait depresi, terutama di area visceral hal ini menjadi salah satu sebab utama orang yang mengalami depresi berat dapat dianggap sebagai faktor risiko gangguan kardiovaskular.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
