
Tindakan 3D Single-Incision Laparoscopic Surgery (SILS)
JawaPos.com - Ginekologi atau ilmu kedokteran yang khusus mempelajari penyakit pada sistem reproduksi perempuan semakin berkembang pesat, baik perkembangan di bidang teknologi maupun tenaga medis yang makin terlatih dan fasih dalam menangani kasus-kasus ginekologi, terutama pada prosedur pembedahan.
Saat ini, luka operasi atau bedah dapat dilakukan sekecil mungkin, sehingga bekas luka minim dan luka dapat pulih dengan lebih cepat. Teknik ini dikatakan sebagai teknik bedah minimal invasif.
Salah satu teknik pembedahan minimal invasif yang menjadi pembahasan saat ini adalah laparoskopi, di mana metode sayatan pada laparaskopi terbagi menjadi dua, metode Single-Incision Laparoscopic Surgery (SILS) dengan satu sayatan kecil berukuran 1-1,5 cm di daerah pusar, dan metode Konvensional di mana akan terdapat 2-3 sayatan kecil berukuran 1-1,5 cm di perut.
Laparoskopi SILS dan Laparoskopi Konvensional sama-sama memberikan luka dan rasa nyeri minimal, serta lama rawat yang singkat. Kedua metode ini menggunakan kamera untuk memvisualisasikan secara langsung organ dalam perut, sehingga tindakan pembedahan dengan cara membuka perut secara keseluruhan (Laparatomi) tidak perlu dilakukan lagi.
Gambar 1. Satu titik pada pusar sayatan (SILS)
Gambar. 2. Tiga titik sayatan Laparaskopi Konvensional
Pusat layanan terpadu untuk penanganan kanker Oncology Center Mayapada Hospital, saat ini telah rutin melakukan prosedur Laparoskopi SILS dan Konvensional yang didukung oleh para dokter dan fasilitas penunjang medis yang dimiliki.
Dokter Spesialis Obsgyn Subspesialis Ginekologi Onkologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Dr.dr.Tricia Dewi Anggraeni, Sp.OG, Subsp.Onk(K), dengan berbagai pengalaman dalam melakukan laparoskopi SILS dan konvensional mengatakan, bahwa penggunaan metode ini sangat membantu pasien untuk segera dapat beraktivitas dan bisa meminimalisir rasa nyeri setelah tindakan operasi.
Metode SILS sering diterapkan pada kasus ginekologi jinak seperti miom, kista dan pengangkatan rahim. Namun pada pasien keganasan/ kanker, seperti kanker serviks dan kanker endometrium metode SILS sulit untuk diterapkan, karena diperlukan penambahan sayatan agar mempermudah pengambilan jaringan secara luas, sehingga untuk menangani kasus ini, umumnya metode yang digunakan adalah laparoskopi konvensional.
Meskipun metode SILS dan konvensional disebut sebagai tindakan minim luka sayatan, kedua metode ini tidak mengurangi kualitas atau ketelitian para tim medis untuk menggapai bagian yang sulit dan tetap akurat karena visualisasi organ menggunakan kamera memberikan kemudahan bagi operator atau tim medis untuk melihat organ dengan lebih jelas dan terarah.
Tindakan bedah melalui laparoskopi memang banyak memberikan keuntungan untuk pasien karena luka dapat pulih dengan lebih cepat sehingga pasien bisa segera beraktivitas dan melakukan rangkaian terapi lanjutan tanpa harus mengkhawatirkan luka operasi sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang pasien kanker payudara Nyonya C, dengan kasus ginekologi (kandungan) jinak dan diperlukan tindakan pengangkatan rahim. Pasien ini menjalani laparaskopi SILS pada 18 September 2023 untuk pengangkatan rahim beserta kedua indung telur dan salurannya yang ditangani oleh dr. Tricia. Dalam waktu dua hari pasca tindakan, pasien dapat beraktivitas normal diikuti dengan melanjutkan rangkaian terapi untuk penanganan terhadap kanker payudara yang dialami.
Setelah laparoskopi SILS berhasil dilakukan, Nyonya C yang berusia 32 tahun ini menceritakan, “Saya senang karena dengan operasi yang saya jalani kemarin pemulihan saya sangat cepat. Operasi hari Sabtu sore dan Senin pagi sudah diperbolehkan pulang, Selasa saya sudah kembali bekerja. Dokter Tricia juga memikirkan treatment plan saya selanjutnya, di mana saya masih harus menjalani kemoterapi untuk kanker payudara saya di minggu depannya. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada dokter dan tim Mayapada Hospital.”
Tindakan 3D Single-Incision Laparoscopic Surgery (SILS)
Dr.dr.Tricia Dewi Anggraeni, Sp.OG, Subsp.Onk(K) atau akrab disapa dengan dr. Anggi menambahkan, bahwa dalam kasus pasien tersebut, kanker payudara adalah penyakit dasar pasien sehingga kita mengharapkan pemulihan yang lebih cepat terhadap kasus ginekologi yang dialami agar pasien dapat segera melanjutkan dan menjalani rangkaian terapi kanker sesuai rencana.
Metode SILS dengan satu sayatan juga meminimalisir risiko dibandingkan dengan sayatan yang lebih banyak, minim perdarahan, dan memiliki aspek kosmetik yang baik sehingga perawatan bekas luka menjadi lebih minim.
Laparaskopi SILS merupakan perkembangan dalam bidang operasi laparoskopi, di mana kemampuan dan pengalaman dokter menjadi salah satu aspek penting dalam melakukan metode atau teknik ini. Tidak hanya untuk operasi kandungan atau yang berkaitan dengan sistem reproduksi saja, operasi lain seperti pengangkatan batu empedu dan usus buntu juga bisa menggunakan teknik ini.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
