JawaPos.com - Emosi sering kali dianggap sebagai reaksi spontan terhadap suatu kejadian. Kita merasa marah, sedih, atau takut seolah-olah semua itu muncul begitu saja tanpa kendali. Namun, benarkah emosi sesederhana itu?
Dilansir dari laman YouTube Jiemi Ardian, dr. Jiemi menjelaskan bahwa emosi jauh lebih kompleks daripada sekadar ekspresi wajah atau bahasa tubuh. Dalam video tersebut, ia mengajak kita memahami bagaimana emosi terbentuk, serta bagaimana pengalaman masa lalu dan konteks budaya turut membentuk cara kita merasakannya.
Memahami emosi bukan hanya penting untuk mengenal diri sendiri, tetapi juga agar kita tidak terjebak dalam reaksi emosional yang salah. Dengan pemahaman yang benar, kita bisa memproses pengalaman masa lalu dan membaca realita dengan lebih jernih. Mari kita bahas lebih dalam.
1. Emosi Bukan Reaksi Alamiah yang Sama pada Semua Orang
Banyak orang mengira emosi muncul secara otomatis terhadap suatu kejadian. Misalnya, melihat ular berarti takut. Namun, menurut dr. Jiemi, hal itu tidak sepenuhnya benar. Emosi dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, konteks, dan pembelajaran sebelumnya.
Contohnya, seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua pecinta ular mungkin akan merasa senang melihat ular, sementara anak lain yang pernah digigit ular akan merasa takut. Artinya, emosi tidak universal, melainkan hasil dari interpretasi berdasarkan memori dan pengalaman individu.
2. Emosi Terbentuk dari Gabungan Prediksi Otak dan Sensasi Tubuh
Otak manusia memiliki dua fungsi utama dalam merasakan emosi. Pertama, otak memprediksi apa yang akan terjadi dan mempersiapkan tubuh untuk bereaksi. Kedua, otak membaca kembali reaksi tubuh itu untuk memastikan apakah situasinya benar-benar berbahaya atau tidak.
Misalnya, ketika seseorang melihat motif ular di celana seseorang, otaknya bisa memicu rasa takut karena prediksi awal salah. Setelah disadari bahwa itu hanya motif kain, otak akan menyesuaikan kembali persepsi sehingga rasa takut mereda. Inilah bukti bahwa emosi melibatkan dialog antara pikiran dan tubuh, bukan hanya reaksi spontan.
3. Memori Masa Lalu Menentukan Cara Kita Merasakan Realita Sekarang
Menurut dr. Jiemi, setiap pengalaman masa lalu menjadi data bagi otak untuk membaca situasi masa kini. Jika seseorang memiliki pengalaman buruk dengan penolakan, maka kritik kecil pun bisa ditafsirkan sebagai serangan. Sebaliknya, pengalaman positif membuat seseorang lebih tenang menghadapi situasi serupa.
Karena itu, emosi adalah hasil konstruksi dari data masa lalu. Bila data atau memori itu diubah atau diproses ulang, maka cara kita merasakan dan menafsirkan realita juga akan berubah.
4. Emosi Bisa Diubah dengan Mengolah Memori Implisit
Dr. Jiemi menjelaskan adanya dua jenis memori: eksplisit (yang berisi alur cerita) dan implisit (yang berisi rasa dalam kejadian). Kita mungkin masih ingat peristiwa tertentu, tetapi rasa sakit atau takut dari peristiwa itu bisa diproses ulang agar tidak mengganggu kehidupan sekarang.
Melalui terapi yang disebut Trauma Processing Therapy, memori implisit ini dapat diintervensi sehingga respon emosional terhadap peristiwa masa lalu menjadi lebih sehat. Dengan begitu, seseorang tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap situasi yang mirip di masa kini.
5. Konteks Budaya Mempengaruhi Makna Emosi dan Tindakan
Salah satu contoh menarik dari dr. Jiemi adalah cara orang tua minta maaf di masa lalu. Dahulu, orang tua yang merasa bersalah bisa menunjukkan maaf dengan memberi buah tanpa kata-kata. Kini, di era modern yang terpengaruh budaya Barat, orang merasa permintaan maaf harus diucapkan secara verbal.
Padahal, perbedaan konteks budaya ini tidak berarti salah satu pihak salah atau benar. Dengan memahami konteks, kita tidak mudah menghakimi, melainkan bisa melihat makna di balik tindakan dengan lebih bijak.
6. Kita Bukan Budak Emosi, Kita Pencipta Emosi
Kesimpulan terpenting dari pembahasan dr. Jiemi adalah bahwa emosi bukan sesuatu yang “terpancar” begitu saja dari dalam diri. Emosi adalah hasil konstruksi aktif otak berdasarkan data dan pengalaman yang kita miliki. Dengan menyadari hal ini, kita memiliki kendali lebih besar terhadap bagaimana kita merasakan dan bereaksi.
Kita tidak lagi menjadi korban emosi, melainkan pembentuknya. Maka, tugas kita bukan hanya “mengatur emosi”, tetapi juga memperbarui cara pandang, memproses memori, dan memperluas konteks berpikir.
Emosi bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari. Ia adalah hasil kerja rumit antara pikiran, tubuh, dan pengalaman masa lalu. Semakin kita memahami cara kerja emosi, semakin kita bisa menavigasi hidup dengan tenang dan bijak.
Seperti disampaikan dr. Jiemi dalam video YouTube nya, mengenali emosi dengan benar membantu kita memahami diri lebih dalam. Dengan begitu, kita tidak lagi terjebak dalam salah tafsir, tetapi justru tumbuh menjadi pribadi yang lebih sadar, kuat, dan seimbang.