ILUSTRASI. (JAWA POS)
Gajah sebagai hewan mamalia selalu menggugah dan memukau bagi manusia. Ini tampak dalam berbagai karya sastra, karya seni lukis, hingga berbagai kepercayaan mitologis yang terhubung dengan hewan ini.
MESKI demikian, terpesonanya manusia terhadap gajah perlu dicermati secara kritis, sebab acap kali sikap kagum itu mengendapkan pandangan antroposentrik yang hanya meletakkan gajah sebagai objek belaka. Walau manusia terpukau dengan gajah, dalam realitasnya kehidupan gajah di alam liar sedang berada di dalam ancaman.
Sengketa ruang antara manusia dan satwa, dalam hal ini gajah, terjadi salah satunya di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau, Sumatera. Ruang konservasi ini berubah menjadi ruang konflik yang sengit, yang membenturkan warga dengan satwa. Kericuhan terus terjadi di taman nasional, bahkan memuncak menjadi tindakan perusakan oleh pihak-pihak yang menginginkan taman nasional itu ditutup. Adapun populasi gajah liar di kawasan TNTN semakin berkurang jumlahnya, melalui data terakhir, disebutkan bahwa ada sekitar 150 ekor.
Penyebab utama menurunnya populasi gajah adalah terjadinya perambahan hutan. Ini menyebabkan ruang hidup gajah semakin terimpit. TNTN yang pada awalnya memiliki luas 81.793 hektare kini hanya tersisa menjadi 12.561 hektare. Gajah membutuhkan ekosistem spesifik untuk bertahan hidup dalam alam liar, mereka perlu ruang jelajah dan makan bersama kelompoknya di wilayah yang luas.
Baca Juga: FFI, Asosiasi Film dan Nominasi
Ekosistem bagi gajah-gajah liar ini penting untuk dipertahankan, selain demi melindungi spesies yang rapuh ini, tetapi juga amat penting bagi manusia. Mengapa pelestarian Tesso Nilo menjadi sedemikian urgen? Tesso Nilo sebagai habitat primer merupakan hutan penyangga yang sangat penting untuk dijaga. Menciutnya wilayah hutan, selain mengancam habitat spesies kunci yakni gajah sumatera dan satwa liar lainnya, akan berbahaya juga bagi manusia.
Melihat kebencanaan yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, deforestasi yang terjadi di wilayah hulu hutan menyebabkan curah air hujan yang ekstrem langsung mengalir menjadi bencana banjir bandang dan longsor. Menjaga hutan merupakan cara mitigasi dan adaptasi bencana yang tepat sasaran, terutama saat ini ketika kita menjalani perubahan iklim.
Menggunakan perspektif filsafat lingkungan, kita dapat mencermati lebih saksama dunia satwa yang terkadang diabaikan oleh pandangan manusia. Sikap antroposentris, yakni pandangan yang meletakkan kepentingan manusia sebagai pusat, dapat menyamarkan observasi manusia terhadap dunia satwa yang sangat dinamis.
Filsafat lingkungan hidup adalah upaya kritis memperluas pertimbangan etis filosofis tidak saja tunggal pada manusia, tetapi pada kepentingan dan kesinambungan biodiversitas. Filsafat yang mulanya sangat kental menempatkan rasio manusia sebagai alasan terbentuknya suatu dominasi posisi manusia di alam, secara berangsur-angsur terjadi perubahan paradigma. Seiring dengan banyaknya pembaruan pikiran, kini mulai berkembang pembahasan yang menempatkan satwa tidak lagi sebagai objek yang dianggap properti manusia saja, namun sebagai subjek yang memiliki emosi dan kecerdasan.
Baca Juga: Sekata Tak Serupa
Sejatinya dunia satwa semarak dengan pengalaman dan emosi. Itu yang disampaikan oleh filsuf Prancis bernama Maurice Merleau-Ponty. Ia menjelaskan dengan teori yang ia sebut sebagai spectacle of animality, atau dinamis dan semaraknya kehidupan satwa itu. Hanya karena manusia memandang remeh dunia satwa, bukan berarti pengalaman dan rasa mereka itu tidak ada. Justru, gajah adalah makhluk yang kaya dengan emosi. Mereka merasakan kecintaan terhadap keluarga, protektif terhadap kelompoknya, mereka juga merasakan ketakutan dan penderitaan.
Berbagai penelitian ilmiah telah dihasilkan untuk memahami ikatan sosial pada gajah. Mereka mengingat anggota keluarganya yang mati, mereka menunjukkan duka dengan menyentuh tulang belulang. Ini yang disebut sebagai interioritas dari gajah, atau kehidupan batin yang sering kali dilalaikan oleh manusia. Gajah ingin hidup dalam damai bersama keluarganya. Hutan dalam hal ini bukan saja kepunyaan manusia, hutan adalah rumah bagi gajah beserta makhluk hidup lainnya.
Dalam bukunya, When Elephants Weep, Jeffrey Moussaieff Mason, seorang peneliti yang mendalami emosi pada hewan, menguraikan bagaimana gajah merasakan teror dan trauma. Ia memberikan contoh bagaimana anak-anak gajah di Kenya yang diselamatkan dari perburuan, mereka sering terbangun dari tidurnya meronta-ronta dan mengeluarkan suara yang nyaring.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022