Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Oktober 2024 | 19.14 WIB

Sitor sebagai Cerpenis

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Dalam sebuah percakapan santai sambil makan malam di rumah seorang penerjemah sastra Indonesia di sebuah kota Selandia Baru pada pertengahan 1990-an, penerjemah bangsa Belanda itu menyatakan bahwa dari keseluruhan cerpen karya Sitor Situmorang, bagi dia, hanya cerpen-cerpennya yang berlatar budaya Batak yang dianggapnya paling menarik, paling menjadi. Informasi bersifat antropologis-historis tentang budaya Batak (Toba) yang diberikan cerpen-cerpen tersebut adalah unsur tekstual yang paling penting bagi pembaca, terutama pembaca asing non-Batak seperti pembaca Belanda, demikian alasannya. Cerpen Ibu Pergi ke Surga adalah contoh yang paling representatif. Penerjemah bangsa Belanda ini adalah satu-satunya penerjemah yang paling banyak menerjemahkan puisi dan cerpen Sitor ke dalam bahasa Belanda.

Saya membantahnya. Saya katakan justru cerpen-cerpen Sitor yang berlatar belakang Eropa, terutama Prancis, yang paling menarik. Di samping gaya penulisan impresionistik cerpen-cerpen tersebut –yang baru pada cerpen-cerpen Sitor muncul kali pertama di sastra Indonesia, bahkan di sastra Barat pun gaya penulisan ini masih baru di tahun-tahun Sitor menuliskannya– bahwa Sitor menulis cerpen-cerpennya dengan berlatar Eropa yang berkomentar tentang kehidupan Barat/Eropa adalah sebuah hal baru dalam sastra yang sekarang dikenal sebagai sastra pascakolonial, terutama dalam sejarah sastra Indonesia. Cerpen-cerpen Sitor yang berlatar budaya Batak sangat menarik si penerjemah Belanda itu (tanpa memperhitungkan estetik tidaknya cara penulisannya, misalnya) lebih banyak menunjukkan politik selera baca si penerjemah Belanda itu sendiri ketimbang esensi dari cerpen-cerpen tersebut. Orientalisme politik selera baca si penerjemah Belanda tersebut memandang eksotisme budaya non-Eropa Batak dalam cerpen sebagai satu-satunya unsur yang menentukan menarik tidaknya cerpen karangan sastrawan non-Eropa Batak bernama Sitor Situmorang.

Percakapan di atas juga menunjukkan satu hal penting lain dalam biografi kepengarangan Sitor Situmorang, yaitu bahwa inilah satu-satunya percakapan tentang cerpen Sitor yang pernah saya alami, terutama dengan pengamat sastra Indonesia berbangsa asing. Biasanya percakapan selalu tentang puisi Sitor atau Sitor sebagai penyair. Sitor Situmorang sebagai cerpenis adalah sebuah topik yang sangat langka dibincangkan, apalagi dituliskan dalam sejarah sastra Indonesia. Seakan-akan Sitor tidak pernah menulis cerpen, seakan-akan cerpennya, bagi mereka yang tahu tentangnya atau pernah membacanya, tidak semenarik puisinya, tidak sekelas dengan puisinya. Absennya percakapan tentang cerpen Sitor atau Sitor sebagai cerpenis dalam sejarah sastra Indonesia makin terasa ironis-tragis, terutama dalam konteks peristiwa perayaan 100 tahun maestro dari tepi Danau Toba, Tanah Batak, ini saat ini di mana yang dirayakan adalah sosok Sitor sebagai penyair seperti terlihat misalnya dalam pengadaan Sayembara Kritik Puisi Kalam 2024 dan acara-acara pembacaan puisi Sitor dari Tanah Batak sendiri sampai Jakarta.

Absennya percakapan tentang Sitor sebagai cerpenis dalam sejarah sastra Indonesia baru-baru ini juga diungkapkan Achmad Fawaid dalam naskah pracetak bukunya yang diberi judul sementara Politik Estetika Sitor Situmorang: Trilogi Mimesis dalam Ibu Pergi ke Surga (1950–1981). Dalam naskahnya yang khusus membicarakan satu cerpen Sitor berjudul Ibu Pergi ke Surga itu, Fawaid mencatat bahwa bukan saja ada tendensi untuk melupakan posisi Sitor sebagai cerpenis, tapi bahkan terdapat fenomena melupakan Sitor dengan sengaja sebagai sastrawan dalam sejarah sastra Indonesia! Beberapa buku yang disebutkannya sebagai melupakan nama Sitor Situmorang itu adalah Ketika Kata Ketika Warna (1995) dan Horison Sastra Indonesia (2002) yang keduanya disusun dan diterbitkan oleh ”Kelompok Horison”-nya Taufiq Ismail, 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014) yang juga disusun ”Kelompok Horison”, serta Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil (2002). Terakhir, Fawaid menyatakan ”Demikian pula, catatan sejarah Maman S. Mahayana, Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia (2006), juga tidak menyebut Sitor dalam daftar pengarang cerpen angkatan 1945 sampai 1980-an”.

Fawaid menganggap terjadinya lupa historis atas eksistensi Sitor Situmorang, terutama sebagai cerpenis dalam percakapan sastra Indonesia, mungkin disebabkan oleh fakta bahwa Sitor menulis jauh lebih banyak puisi ketimbang cerpen, yaitu ”lebih dari 650 judul” puisi dibanding cuma 23 cerpen. Mudah-mudahan memang demikianlah adanya.

Tapi, bagaimanapun posisi Sitor sebagai cerpenis harus mulai dibicarakan dengan serius, terutama dalam konteks kritik sastra akademik. Apa yang dilakukan Achmad Fawaid dengan pembicaraan yang sangat teoretis akademik dalam naskahnya tersebut patut diacungi jempol dan diikuti oleh lebih banyak peneliti lainnya. Tapi, pembicaraan tersebut nanti jangan didominasi oleh orientalisme cara berpikir seperti yang ditunjukkan oleh si penerjemah Belanda di atas, yang mengorbankan estetika cerpen demi merayakan lokalitas budaya lokal yang tak lebih daripada sekadar eksotisme kolonial yang masih kuat mewarnai pembicaraan atas sastra Indonesia, terutama yang dilakukan oleh kaum Indonesianis. Sitor adalah salah seorang cerpenis utama Indonesia, setara dengan Pramoedya Ananta Toer atau A.A. Navis, dan pembicaraan atas Sitor sebagai cerpenis akan melengkapi sosoknya sebagai sastrawan yang saat ini terasa timpang kurang lengkap. Hal ini juga akan mengurangi krisis pembicaraan atas cerpen Indonesia dalam sejarah sastra Indonesia yang sampai saat ini masih didominasi oleh pembicaraan atas puisi dan novel seolah cerpen itu bukan salah satu genre sastra! (*)

---

SAUT SITUMORANG, Penyair

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore