
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Eko Edy Susanto, lebih dikenal sebagai Cak Edy, meninggal dunia pada 17 September lalu. Ia mewariskan jejak tak tergantikan dalam sejarah ludruk Jawa Timur. Sebagai pemilik Ludruk Karya Budaya Mojokerto, Cak Edy bukan sekadar pemimpin kelompok kesenian. Ia adalah pilar yang menahan robohnya seni tradisi yang sering dianggap terancam punah itu. Ludruk, telah lama dilihat sebagai seni pertunjukan yang berada di ambang kematian, justru terus hidup dan bertransformasi di bawah sentuhan kreatifnya. Di tengah kecemasan tentang masa depan ludruk, Cak Edy membuktikan bahwa kesenian tradisi itu masih bisa berkembang dengan pendekatan inovatif eksperimentatif.
Salah satu keberhasilan Cak Edy adalah mengubah Ludruk Karya Budaya menjadi lebih dari kelompok pementasan. Di saat kelompok ludruk lain terjebak dalam pola tradisional, Cak Edy membawa ludruk ke arah lebih eksperimental. Ia tidak hanya berfokus pada pertunjukan, tetapi juga membangun Ludruk Karya Budaya sebagai laboratorium kreatif, tempat di mana seniman dan akademisi berkumpul untuk berdiskusi, bereksperimen, dan mengembangkan ludruk dari berbagai sudut pandang. Dengan cara ini, ludruk di tangannya menjadi wadah dialog antardisiplin yang memperkaya nilai artistiknya.
Revolusioner
Cak Edy secara konsisten melibatkan maestro musik (katakanlah Bambang SP), maestro teater (Cak Kirun), dan akademisi dalam proses kreatifnya. Ia memahami bahwa ludruk tidak hanya soal mempertahankan, tetapi juga tentang memberi napas baru. Kolaborasi dengan para ahli di berbagai bidang memperkaya sisi musikal, gerakan, dan visual dari pertunjukan ludruk, menciptakan pengalaman lebih memukau dan berkesan bagi penonton. Apa yang dikerjakannya adalah sebentuk penghormatan pada tradisi yang diwariskan sekaligus langkah progresif menuju masa depan.
Salah satu keputusan kontroversial namun revolusioner adalah mempertahankan ludruk sebagai ekspresi seni berbasis laki-laki, di tengah perubahan tren yang mulai mengizinkan perempuan memainkan peran-peran utama, bahkan mendominasi pada penyajiannya, terutama perempuan berparas cantik dan bodi tubuh menggoda. Alih-alih mengikuti arus, Cak Edy merekrut transpuan (laki-laki feminin) untuk memerankan tokoh-tokoh perempuan dalam pertunjukan ludruknya. Langkah ini tidak hanya mempertahankan keaslian tradisi ludruk, tetapi juga menghadirkan refleksi sosial lebih otentik dalam pemahaman gender dan identitas di era mutakhir.
Keputusan tersebut menjadikan Ludruk Karya Budaya unik. Cak Edy cukup cermat memadukan tradisi maskulin ludruk dengan wacana kontemporer tentang gender. Dalam pertunjukannya, transpuan yang berperan sebagai perempuan membawa kompleksitas tersendiri, menyuarakan keragaman identitas, tetapi tetap selaras dengan akar tradisi ludruk. Menciptakan semacam ”inovasi tradisi” yang menggabungkan progresivitas dengan konservatisme kultural. Cak Edy juga membuka Ludruk Karya Budaya sebagai subjek penelitian bagi banyak akademisi. Berbeda dengan kebanyakan seniman tradisi yang tertutup terhadap dunia akademik, Cak Edy justru melihat kolaborasi dengan akademisi sebagai peluang untuk lebih memahami ludruk dari berbagai sudut pandang ilmiah. Ludruk Karya Budaya banyak menjadi bahan kajian untuk skripsi, tesis, disertasi, dan buku-buku. Hal ini tidak hanya mengangkat profil ludruk di kalangan intelektual, tetapi juga memberi landasan teoretis kuat bagi regenerasi dan inovasi di masa depan.
Terbuka
Cak Edy menjalankan peran penting dalam kerja-kerja akademis. Setiap ulang tahun Ludruk Karya Budaya, ia secara rutin menyelenggarakan seminar yang mengundang berbagai narasumber kompeten dari kalangan akademisi, seniman, hingga budayawan. Seminar-seminar ini menjadi wadah aktualisasi intelektual yang membahas perkembangan ludruk dari berbagai perspektif, mulai sejarah, teknik seni peran, hingga relevansi sosial-budaya di era kontemporer. Puncaknya, Cak Edy menerbitkan buku berjudul Ludruk Karya Budaya Mbeber Urip (2014), merangkum perjalanan panjang Ludruk Karya Budaya di bawah kepemimpinannya. Buku ini menjadi tonggak dokumentasi penting bagi perkembangan ludruk sekaligus sebagai media untuk memperkenalkan ludruk kepada khalayak lebih luas.
Dengan tangan terbuka, ia menerima kritik dan saran dari berbagai pihak, baik penonton, akademisi, maupun seniman lain. Sikap terbuka inilah yang membuat Ludruk Karya Budaya terus berkembang dan selalu relevan karena ia menjadikan kritik sebagai bahan refleksi untuk terus memperbaiki kualitas. Selama kepemimpinannya, Ludruk Karya Budaya memperkenalkan program-program edukatif yang bertujuan untuk melibatkan generasi muda dalam seni ludruk. Ia banyak mengadakan workshop dan lokakarya, mengajak anak muda untuk belajar tidak hanya tentang seni peran, tetapi juga tentang sejarah dan filosofi ludruk. Cak Edy, dengan demikian, tidak berupaya menciptakan penonton baru, tetapi juga calon seniman ludruk masa depan, diharapkan dapat meneruskan tradisi ini dengan semangat inovatif yang sama.
Di bawah kepemimpinan Cak Edy, Ludruk Karya Budaya mampu bertahan dan berkembang selama 55 tahun (2024), sebuah pencapaian monumental yang jarang terjadi dalam dunia seni tradisi. Di tengah persoalan bagi denyut hidup tradisi, keberhasilan ini merupakan bukti ketangguhan visi jangka panjang yang ia miliki dalam menjaga dan memperbarui ludruk. Keberlanjutan selama lebih dari setengah abad ini menunjukkan bahwa di tangan Cak Edy, ludruk tidak sekadar bertahan, tetapi terus relevan dan menarik perhatian generasi demi generasi. Pencapaian ini mengukuhkan Ludruk Karya Budaya sebagai salah satu kelompok seni tradisi terkuat di Indonesia dan menjadi warisan sangat berharga bagi dunia seni pertunjukan pada umumnya.
Kepergian Cak Edy di usia 68 tahun menandai akhir dari sebuah era penting dalam sejarah ludruk, tetapi juga membuka babak baru penuh tantangan bagi masa depan. Dalam kehadirannya, ia membuktikan bahwa inovasi dan penghormatan terhadap akar budaya dapat berjalan beriringan, tetapi tanpa figur sentral sepertinya, akankah ludruk mampu bertahan dari pelbagai gempuran? Atau justru akan tenggelam dalam ketidakjelasan, kehilangan arah di tengah arus budaya populer yang serbacepat? Pertanyaan ini menguji sejauh mana warisan kreativitas Cak Edy dapat menjadi inspirasi, bukan sekadar kenangan, bagi generasi penerus yang diharapkan bisa melanjutkan tongkat estafet kebangkitan ludruk. (*)
---
ARIS SETIAWAN, Etnomusikolog, pengajar di ISI Solo

12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Thailand di Final Piala AFF 2026
