Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Juli 2024, 15.31 WIB

Mengapa Miguel Rimba?

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Setiap ada hajatan akbar sepak bola, apalagi dobel seperti yang terjadi tahun ini (Euro 2024 dan Copa America 2024), saya jadi mengingat Piala Dunia pertama saya, USA ’94. Dan tiap ingat USA ’94, ada nama ganjil yang biasa mengemuka dalam kepala: Miguel Rimba.

Ia tentu bukan pemain terbaik di turnamen. Bahkan bukan yang paling menonjol di timnya sendiri. Tak juga ia melakukan hal luar biasa atau konyol yang membuatnya layak dibicarakan atau dikenang, semisal tarian Milla di Italia ’90 atau tandukan Zidane di Jerman ’06.

Miguel Rimba hanya pemain biasa di tim nasional yang jauh dari istimewa, Bolivia. Di USA ’94, tim ini hanya memainkan tiga pertandingan di babak grup lalu pulang, dan sejak itu mereka tak pernah lagi menginjak panggung Piala Dunia. Begitu pula kiprah Rimba. Di level klub, Rimba juga hanya bermain di liga lokal bersama Bolivar. Ia bukan Erwin Sanchez atau Marco Etcheverry yang lebih punya reputasi dan lebih banyak dibicarakan sebelum turnamen dan punya karier yang lebih panjang setelahnya.

Lebih tak istimewa lagi karena dari USA ’94 saya cukup yakin bisa mengingat banyak sekali nama. Untuk tim-tim yang lolos dari babak grup, saya percaya diri bisa menyebutkan separo atau setidaknya 4–5 nama pemain kunci dari masing-masing tim.

Beberapa nama pantas dikenang karena berbagai alasan yang lebih bisa diterima: Andres Escobar untuk gol bunuh diri mautnya, Alexi Lalas untuk jenggot kambingnya, Rashidi Yekini untuk perayaan golnya di dalam jaring gawang Bulgaria, Saeed Al Owairan untuk gol solonya ke gawang Belgia, atau Iordan Letchkov dan gol sundulan dengan kepala botaknya yang menyingkirkan Jerman di perempat final.

Tapi mengapa kepala saya malah diisi nama seorang bek dari salah satu tim terburuk di turnamen?

*** 

Pada dasarnya, Miguel Rimba, bersama nama-nama macam Samson Siasia (Nigeria), Rai (Brasil), Valerie Karpin (Rusia), atau Bodo Illgner (Jerman) saya ingat karena alasan yang spesifik: semata karena namanya.

Mengapa ada orang Bolivia bernama ”rimba”; apakah ia tinggal dekat hutan seperti kami? Lalu tidak adakah nama keluarga di Nigeria yang lebih berguna selain ”siasia” untuk Tuan Samson? Mestinya ada seseorang yang memberi tahu keluarga ”Rai” di Brasil dan ”Bodo” di Jerman, kalau di Jawa kata itu sering dipakai untuk memaki alih-alih memuji. Sementara Karpin terdengar mirip Karpan, tetangga kami.

Ya, apa pun kami (tapi terutama saya) lakukan untuk mengingat, lebih-lebih ini soal sepak bola. Lagi pula, USA ’94 adalah Piala Dunia pertama saya. Ini, untuk saya, lebih penting dari rumus-rumus fisika di SMP. Sebab, tak seperti rumus-rumus fisika, Piala Dunia tak ada buku ajarnya.

Lagi pula itu 1994. Belum ada listrik di desa kami. Semua TV masih pakai aki, semua masih hitam-putih. Dan jumlahnya tak banyak. Dan semuanya milik orang lain.

Menonton sepak bola di TV masa itu seperti menonton pertandingan tarkam di lapangan desa: ia adalah peristiwa sekali seumur hidup. Ia tidak bisa diulang; tak ada rekaman untuk ditengok lagi. Maka ingatan menjadi satu-satunya andalan. Mungkin Anda akan beruntung melihat cuplikannya di Arena dan Juara pada akhir pekan. Tapi itu kalau Anda kuat melek hingga pukul 10 malam. Yang lebih penting, TV tetangga masih menyala dan pintu rumahnya terbuka.

Beberapa koran secara acak bisa ditemukan di desa kami. Tapi sangat sedikit koran baru. Beberapa pertandingan mungkin akan diulas hingga berhari-hari, sementara beberapa nama bintang akan disebut berulang-ulang. (Itu membuat kita tak bisa melupakan gol Maradona ke gawang Yunani dan perayaan gilanya itu. Itu juga yang membuat kita mudah mengenang perayaan gol timang bayi dari trio Bebeto-Romario-Mazinho.) Tapi beberapa pertandingan akan dilangsungkan untuk segera dilupakan. Dan banyak nama yang bermain kemudian sama sekali tak diingat.

Romario, Bebeto, Baggio, Stoichkov, Brolin, juga Hagi adalah nama-nama yang biasanya diidentikkan dengan USA ’94. Mereka bermain cemerlang, dan tim mereka melaju hingga jauh. Tapi karena itu juga mudah mengingat mereka. Dan mengingat atau bahkan tahu banyak tentang mereka tak membuat Anda merasa istimewa. Toh sebuah tulisan usang dan buruk di koran bertahun-tahun kemudian masih akan mengingatkan Anda pada mereka.

Tepat di situlah punya ingatan atas Miguel Rimba menjadi berharga, dan ia jadi lebih dari semata karena namanya yang unik saja. Jika Anda bisa mengingat seorang bek Bolivia, Anda pasti tahu banyak tentang para penyerang Brasil atau Italia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore